Garis-garis Besar Isi Proposal Kualitatif dan Kuantitatif Komunikasi

Jika sebuah penelitian mengedepankan dasar keingintahuan tentang permasalahan yang terjadi, hendaknya mampu berkolaborasi dengan informasi yang tersusun secara sistematis yang sudah barang tentu mengandung unsur solusi pada permasalahan tersebut..

Analisa Pembiayaan

Suatu proses analisis yang dilakukan oleh bank syariah unuk menilai suatu permohonan pembiayaan yang tela diajukan oleh calon nasabah. Dengan melakukan analisis permohonan pembiayaan, bank syariah akan memperoleh keyakinan bahwa proyek yang akan dibiayai layak (feasible)..

Perkembangan Ekonomi Islam di Dunia dan Indonesia

Dewasa ini kehidupan ekonomi telah menjadi standar kehidupan individu dan kolektif suatu negara-bangsa. Keunggulan suatu negara diukur berdasarkan tingkat kemajuan ekonominya. Ukuran derajat keberhasilanmenjadi sangat materialistk. Oleh karena itu, ilmu ekonomi menjadi amat penting bagi kehidupan suatu bangsa. Namun demikian, pakar ilmu ekonomi sekaliber Masrhal menyatakan bahwa kehdiupan dunia ini dikendalikan oleh dua kekuatan besar; ekonomi dan keimanan (agama), hanya saja kekuatan ekonomi lebih kuat pengaruhnya daripada agama..

Pasar Monopolistik

Pasar merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat, baik masyarakat yang berada dikalangan kelas bawah ataupun masyarakat yang berada di kalangan kelas atas. Semua unsuryang berkaitan dengan hal ekonomi berada di pasar mulai dari unsur produksi, distribusi,ataupun unsur konsumsi..

Tafsir Ayat Ekonomi

Agama Islam mengharuskan setiap pemeluknya memiliki hati dan perasaan yang mawas dan kuat, dengan hati yang mawas dan kuat semua hak-hak Allah dan hak-hak manusia dapat dipelihara dengan baik, semua amal perbuatan dapat dijauhkan dari sikap ekstrim dan memudah-mudahkan. Karena itulah agama Islam ini mewajibkan setiap muslim memiliki sifat dapat dipercaya (amanah)..

Music

Showing posts with label Metodologi Penelitian. Show all posts
Showing posts with label Metodologi Penelitian. Show all posts

Monday, 28 February 2022

Kritik Islam Terhadap Teori dan Penerapan Ekonomi di Indonesia

 Rafi Irsyad STEI SEBI

Jl. Raya Bojong Sari Pondak Rangga Kecamatan Sawangan

Kota Depok, Jawa Barat 16517

Email: rafiirsyad10@gmail.com


Abstrak : Inti dari masalah ekonomi yang kita pahami selama ini adalah kebutuhan manusia yang tidak terbatas sedangkan alat pemuas  kebutuhan terbatas.   Para   ahli   ekonomi   konvensional menyebutnya sebagai masalah kelangkaan. Dalam Islam masalah ekonomi Islam permasalahan ekonomi adalah ditribusi yang tidak  merata. Sistem ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur serta menjalain hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam suatu tatanan kehidupan. Suatu sistem ekonomi tidaklah berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan falsefah, pandangan dan pola hidup maryarakat tempatnya berpijak. Sebuah sistem ekonomi sesungguhnya merupakan salah satu unsur saja dalam suprasistem kehidupan maryarakat. Ia mempakan bagian dari kesatuan ideologi kehidupan maryarakat di suatu negara. Oleh karena itu, bukanlah halyang mengherankan apabila dalam perjalanan atau penerapan suatu sistem ekonomi tertentu di sebuah negara terjadi benturan, konflik atau bahkan tentangan. Pelaksanaan suatu sistem ekonomi tertentu di sebuah negara akan berjalan mulus jika lingkungan kelembagaan maryarakat mendukung.

Sistem ekonomi Islam sebagai salah satu sistem ekonomi yang ada, berlainan dengan sistem ekonomi kapitalis yang sangat memuja kebutuhan individu dan berbeda pula dengan sistem ekonomi sosialis komunisyang tidak mengakui hak individu. Islam merupakan jalan tengah yang mengajarkan manusia untuk saling mengasihi, menghargai dan menghormati, akan tetapi tidak melupakan kepentingan pribadi untuk hidup dihargai dan dihormati.

Permasalahan dalam ekonomi Islamadalah distribusi yang tidak merata sedangkan konvensional adalah kelangkaan. Solusi yang ditawarkan Islam antara lain: Masyarakat mempunyai hak khiyar. Hak khiyar adalah adalah salah satu ak bagi kedua belah pihak yang melakukan transaksi (akad) ketika terjadi beberapa persoalan dalam transaksi yang dimaksud.

Hak Khiyar sendiri ada terbagi menjadi :Khiyar Tadlis (Membatalkan  karanabarangnya cacat), Khiyar ‘aib (kurangnya nilaitersebut dikalangan ahli pasar. Khiyar Syarat (hakpilih) yang dijadikan syarat keduanya. Masyarakat menyelesaikannya dengan media al-shulhu (perdamaian).

 

Kata Kunci : pemikiran , permasalahan, ekonomi islam di Indonesia

 

Pemikiran Ekonomi Indonesia

     Pola pengelolaan perekonomian Indonesia sebagaimana terdapat pada UUD 1945, telah ada selama 74 tahun, seusia dengan Republik Indonesia, namun pelaksanaan dan hasilnya masih jauh dari harapan. Sebagaimana diuraikan pada Sub Bab Fakta/Data di Bab II (Tinjauan Pustaka), ketimpangan masih buruk (walau sudah mengalami perbaikan), pengangguran masih dialami banyak warga negara, kemiskinan masih secara kuantitatif masih banyak, kepemilikan sumber daya alam masih sangat timpang, pembangunan ekonomi kawasan Barat Indonesia dengan Kawasan Timur Indonesia masih timpang, dimana pembangunan masih terkonsentrasi di Kawasan Barat Indonesia, khususnya Pulau Jawa.

Mengapa setelah sedemikian lama, implementasi Sistem Ekonomi Pancasila masih jauh dari harapan ?. Salah satu faktornya diduga adalah terlambatnya penafsiran yang sama diantara warga negara tentang makna “dikuasai” negara. Penafsiran ini baru muncul setelah penguasaan SDA mengalami masalah dan menimbulkan konflik di tengah-tengah masyarakat.

Lebih baik terlambat dari pada tidak ada sama sekali. Mahkamah Konstitusi menafsirkan makna dari frase “dikuasai oleh negara ” ke dalam lima fungsi yaitu 1) fungsi kebijakan (bleid) oleh negara melalui kebijakankebijakan di bidang sumber daya alam; 2) Fungsi pengurusan (beerturdaad) oleh negara untuk mengeluarkan dan mencabut perizinan, lisensi dan konsesi; 3) fungsi pengaturan (regelendad) oleh negara untuk membuat undang undang dan peraturan pelaksanaannya; 4) fungsi pengelolaan (beheerdaad) oleh negara untuk kepemilikan saham (share holding) atau terlibat langsung dalam manajemen BUMN; 5) fungsi pengawasan melalui mekanisme pengawasan dan pengendalian pelaksanaan penguasaan negara untuk sumberdaya alam agar benar-benar ditujukan untuk sebesarbesarnya kemajuan rakyat90 . Agar tidak terulang dalam hal multitafsir, maka sebaiknya dibuat Undang-Undang atau penafsiran tunggal oleh pemerintah terhadap masing-masing ayat 1, 2 dan ayat 3, ayat 4 pasal 33 UUD 1945. Walaupun sudah ada penjelasan UUD 1945 tentang arti dari pasal 33 UUD 1945, namun belum begitu jelas dan tidak mengikat secara hukum 91 . Apalagi sejak amandemen UUD 1945, penjelasan UUD 1945 tidak lagi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari UUD 1945.

Sistem perekonomian yang diterapkan oleh Indonesia adalah sistem perekonomian pancasila. Maka, secara normatif pancasila dan UUD 1945 adalah landasaan idiil sistem perekonomian di Indonesia. Dasar politik perekonomian ini diatur dalam UUD 1945 pasal 33 yang berbunyi :

  1. Ayat 1:  Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.
  2. Ayat 2: Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
  3. Ayat 3: Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
  4. Ayat 4: Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
  5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Perlu di ketahui, bahwa dalam proses pembangunan sistem ekonomi di suatu negara dipengaruhi banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor-faktor internal, di antaranya adalah kondisi fisik, lokasi geografi, jumlah, serta kualitas sumber daya alam dan manusia. Faktor-faktor eksternal di antaranya adalah perkembangan teknologi, kondisi perekonomian dan politik dunia, serta keamanan global. Nah, sistem ekonomi Pancasila dipilih untuk diterapkan di negara kita karena di dalamnya terdapat makna demokrasi ekonomi.

Permasalahan Ekonomi

Menurut jurnal Masalah Ekonomi Indonesia dan Solusinya oleh Herdiana, masalah ekonomi adalah masalah yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari masalah jual beli, ketimpangan pendapatan, hingga masalah ekspor dan impor.

Masalah yang dihadapi pemerintah dalam bidang ekonomi, yaitu pengangguran, kemiskinan, harga, pendapatan, inflasi, utang, ekonomi politik, dan masalah ekonomi lainnya.

Inti dari masalah ekonomi di Indonesia ialah adanya ketimpangan antara kebutuhan manusia yang tak terbatas dengan alat pemenuhan kebutuhan yang terbatas. Oleh sebab itu, terjadi masalah ekonomi di lingkungan masyarakat yang berdampak kepada perekonomian secara menyeluruh.

Menurut buku Masalah Pokok Perekonomian Indonesia oleh Rowland B. F. Pasaribu, berikut masalah yang dihadapi pemerintah dalam bidang ekonomi:

Permasalahan ekonomi tidak hanya meliputi masalah-masalah mikro seperti kekakuan harga, monopoli, dan eksternalitas yang memerlukan intervensi pemerintah. Permasalahan ekonomi juga terjadi dalam lingkup ekonomi makro yang memerlukan kebijakan pemerintah. Dinegara-negara sedang berkembang, pada umumnya terdapat tiga masalah besar pembangunan ekonomi. Ketiga masalah tersebut berkaitan dengan kemiskinan, kesenjangan ekonomi, dan pengangguran yang terus meningkat. Permasalahan ekonomi makro Indonesia dalam membangun negara sebenarnya tidak hanya sebatas itu. Inflasi yang tidak terkendali, ketergantungan terhadap impor dan utang luar negeri merupakan masalah pemerintah dalam bidang ekonomi makro.

Adapun penjelasannya yaitu sebagai berikut :

1.      Masalah Kemiskinan

Kemiskinan merupakan suatu keadaan ketidakmampuan yang bersifat ekonomi (ekonomi lemah) jadi dimana seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok (kebutuhan primer) karena pendapatannya rendah. Kemiskinan terjadi karena beberapa faktor. Karena rendahnya pendapatan yang menyebabkan rendahnya daya beli. Selain itu karena rendahnya pendidikan masyarakat sehingga masyarakat tidak mendapatkan hidup yang layak.

Untuk mengatasi kemiskinan yaitu dengan cara membatu masayarakat pemerintah melakukan program ‘Program Inpres Desa Tertinggal’ atau IDT, pemberian kredit untuk para petani dan pengasuh kecil berupa ‘Kredit Usaha Kecil’ atau KUK, Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP), Program Kawasan Terpadu (PKT), Program Gerakan Orang Tua Asuh (GN-OTA), Raskin, Bantuan Langsung Tunai (BLT), serta program-program lainnya.

Kemiskinan merupakan masalah utama yang dihadapi pemerintah. Memang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mengatasinya. Namun kita semua juga haruslah ikut serta dalam upaya pengentasan kemiskinan karena kita merupakan mahluk sosial yang beragama. Dimulai dari upaya kecil dan nantinya akan melakukan perubahan besar.

Solusi atas masalah kemiskinan yang dapat kita upayakan yaitu dengan dimulai dari diri sendiri, mulai detik ini, dan hingga akhir nanti. Maksudnya kalian sebagai pelajar, belajarlah dengan tekun untuk masa depan diri kalian sendiri serta nantinya akan berkembang potensi positif kalian untuk berguna bagi masyarakat. Contohnya, jika kalian belajar dengan tekun maka kalian membentuk diri sebagai pribadi yang intelektual serta berakhlak mulia. Potensi positif tersebut dapat digunakan untuk memperoleh pekerjaan yang layak sehingga pendapatan yang kalian dapatkan akan membuat kalian jauh dari kemiskinan dan pendapatan tersebut dapat kalian sisihkan untuk membantu sesama seperti membagikan sembako atau kebutuhan-kebutuhan lainnya, berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial, dan lain-lain.

2.      Masalah Keterbelakangan

Keterbelakangan merupakan suatu keadaan yang kurang baik jika dibandingkan dengan keadaan lingkungan lainnya. Keterbelakangan dalam hal ini maksudnya adalah ketertinggalan dengan negara lain di lihat dari berbagai aspek serta berbagai bidang.

Dilihat dari penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), Indonesia masih dikategorikan sebagai negara sedang berkembang. Ciri lain dari negara sedang berkembang adalah rendahnya tingkat pendapatan dan pemerataannya, rendahnya tingkat kemajuan dan pelayanan fasilitas umum/publik, rendahnya tingkat disiplin masyarakat, rendahnya tingkat keterampilan penduduk, rendahnya tingkat pendidikan formal, kurangnya modal, dan rendahnya produktivitas tenaga kerja, serta lemahnya tingkat manajemen usaha.

Untuk mengatasi masalah keterbelakangan tersebut, pemerintah berupaya meningkatkan kualitas SDM dengan melakukan program pendidikan seperti wajib belajar 9 tahun dan  mengadakan pelatihan-pelatihan seperti Balai Latihan Kerja (BLK). Selain itu, melakukan pertukaran tenaga ahli, melakukan transfer teknologi dari negara-negara maju.

Masalah keterbelakangan merupakan masalah yang harus kita atasi bersama. Karena kita merupakan subjek atau obejek dari permasalahan ini. Upaya yang dapat kita lakukan adalah dengan memiliki semangat ingin maju sehingga kita memiliki hasrat untuk belajar dan belajar terus. Negara kita belum dikategorikan sebagai negara maju. Kita sebagai masyarakatnya haruslah membantu pemerintah untuk mengejar ketertinggalan dari segala bidang dengan negara lain. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan IPTEK karena merupakan kunci untuk mengatasi masalah keterbelakangan. Apa yang dapat kalian lakukan untuk mengatasi keterbelakangan ? Kalian harus belajar dengan tekun. Jika kalian pintar maka kalian dapat melakukan sesuatu yang berguna seperti mengikuti olympiade mata pelajaran atau kegiatan-kegiatan lainnya yang akan mengangkat nama negara dimata dunia. Selain itu, kalian semestinya menjaga pembangunan seperti fasilitas publik yang telah dilakukan pemerintah. Jangan sampai merusaknya karena jika rusak maka akan membutuhkan biaya untuk memperbaikinya. Selain itu, pembangunan yang dilakukan pemerintah semestinya dipergunakan dengan baik jangan sampai diabaikan karena pembangunan tersebut dibangun dengan menggunakan biaya yang tidak sedikit. Contohnya seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan, tindakan anarki seperti kerusuhan, korupsi, mutu pendidikan rendah karena banyak peserta didik yang kurang memenuhi standar nilai, pelanggaran lalu lintas, dan lain-lain sehingga akan banyak hal yang dirugikan dan membutuhkan biaya untuk mengatasinya. Jadi kita sebagai warga negara yang baik semestinya membantu pemerintah supaya menjadi negara maju dengan menjadi warga negara yang tidak menjadi beban atau merugikan negara serta menjadi warga negara yang produktik sehingga dapat berguna bagi bangsa.

3.      Masalah Pengangguran dan Keterbatasan Kesempatan Kerja

Pengangguran merupakan suatu kondisi kurang produktif atau pasif sehingga kurang mampu menghasilkan sesuatu. Sedangkan keterbatasan kesempatan kerja merupakan suatu keadaan kekurangan peluang untuk mendapatkan pekerjaan karena tidak dapat masuk dalam kuota atau pekerjaan yang tersedia.

Masalah pengangguran dan keterbatasan kesempatan Kerja saling berhubungan satu sama lainnya. Masalah pengangguran timbul karena adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja yang tersedia. Hal ini terjadi karena Indonesia sedang mengalami masa transisi perubahan stuktur ekonomi dari negara agraris menjadi negara industri.

Untuk mengatasi masalah tersebut maka solusinya adalah dengan melaksanakan program pelatihan bagi tenaga kerja sehingga tenaga kerja memiliki keahlian yang sesuai dengan lapangan yang tersedia, pembukaan investasi-investasi baru, melakukan program padat karya, serta memberikan penyuluhan dan informasi yang cepat mengenai lapangan pekerjaan.

Supaya kita tidak menjadi pengangguran karena kurangnya kesempatan kerja maka kita dapat berupaya secara aktif sehingga menjadi produktif yang pada akhirnya kita tidak ketergantungan pada pekerjaan yang telah tersedia. Lebih baik kita menciptakan pekerjaan yakni berwirausaha dari pada kita ketergantungan pada pekerjaan yang belum pasti kita akan dapatkan. Kalaupun kita tidak dapat menciptakan pekerjaan maka kita harus bersiap untuk bersaing dengan para pencari pekerja baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Untuk itu, kalian semestinya memanfaatkan kegiatan belajar dengan baik untuk memupuk ilmu pengetahuan serta kepribadian yang baik supya kita memiliki kompetensi atau kemampuan untuk bersaing dalam mendapatkan pekerjaan. Dalam mendapatkan pekerjaan, yang perlu diperhatikan bukan nilai dari pendidikan formal (sekolah,kuliah) dan non-formal (kursus ketrampilan,kepribadian, serta pengalaman) saja yang dijadikan bahan pertimbangan utama namun penerapan atau aplikasi dari ilmu pengetahuan yang dimiliki. Artinya percuma jika nilai tinggi di ijazah tetapi setelah diuji kembali tidak dapat membuktikannya. Maka kalian disaat ujian janganlah membiasakan mencontek atau bekerja sama supaya mendapatkan nilai yang tinggi.

4.      Masalah Kekurangan Modal

Masalah kekurangan modal adalah salah satu ciri penting bagi setiap negara yang memulai proses pembangunan. Kekurangan modal tidak hanya mengahambat kecepatan pembangunan ekonomi yang dapat dilaksanakan tetapi dapat menyebabkan kesulitan negara tersebut untuk lepas dari kemiskinan.

Pemerintah banyak melakukan program-program bantuan modal salah satunya yakni PNPM MANDIRI. Selain pemerintah, badan usaha juga membantu dalam masalah kekurangan modal seperti bank, koperasi, BUMN seperti PLN dan lain-lain.

Untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan melakukan program-program yang  meningkatan kualitas SDM atau peningkatan investasi menjadi lebih produktif. Kekurangan modal dapat diatasi secara bijak dengan tidak meminjam kepada retenir. Lebih baik meminjam kepada koperasi karena koperasi jasa yang dikenakan bersifat menurun dan kita akan mendapatkan Sisa Hasil Usaha (SHU). Kalaupun dirasa tidak akan mampu mengembalikan pinjaman maka semestinya kita berfikir kreatif dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.

5.      Masalah Pemerataan Pendapatan

Pemerataan pendapatan bukan berarti pendapatan masyarakat harus sama. Pemerataan pendapat supaya keadaan masyarakat semakin membaik bukan semakinrendah. Pemerataan Pendapatan merupkan upaya untuk membantu masyarakat yang ekonominya rendah supaya tidak jauh terpojok. Artinya untuk menghindari dari adanya gap atau batas antara yang kaya dan yang miskin. Jadi supaya yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin.

Ketidakmerataan pendapatan terjadi karena sebagian besar pembangunan Indonesia terkonsentrasi hanya dikota-kota besar saja. Oleh sebabitulah supaya pendapatan masyarakat merata, perlu perhatian pemerintah yang didukung oleh masyarakat untuk bersama meningkatkan pelayanan kualitas publik, meningkatkan kualitas SDM dan SDA supaya dapat mengatasi ketidakmerataan pendapatan. Penerapan pajak bagi masyarakat yang berpenghasilan tinggi lebih dicermati lagi untuk subsidi silang bagi masyarakat yang ekonominya masih rendah.

Apa yang dapat kalian lakukan untuk membantu pemerintah dalam masalah ini ? kalian semestinya memiliki sikap tenggang rasa jangan sombong. Maksudnya jika kalian memiliki rezeki lebih, berbagilah dengan lainnya. Jangan kalian sombong dengan harta yang dimiliki karena akan mengakibatkan kecemburuan sosial. Kita semestinya membantu sesama baik dengan uang, tenaga, dan pikiran supaya dapat meningkatkan pendapatannya (taraf hidupnya)

6.      Inflasi

Inflasi merupakan kondisi meningkatnya harga barang secara menyeluruh dan terjadi secara berkala. Jika kenaikan harga terjadi pada satu atau dua barang saja, hal itu tidak dapat disebut inflasi.

Kondisi inflasi di suatu negara dapat menimbulkan akibat buruk dari segi kegiatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Inflasi dapat disebabkan oleh ketidakstabilan politik yang memengaruhi perekonomian suatu negara.

Jika terjadi kasus demikian, tingkat inflasi menjadi tinggi dan sulit untuk dikendalikan oleh suatu negara. Namun, biasanya inflasi terjadi akibat banyaknya permintaan dari masyarakat, pertambahan penawaran uang, dan peningkatan biaya produksi.

Untuk mengatasi inflasi, diperlukan kebijakan ekonomi pemerintah yang tegas dan berfokus kepada kesejahteraan masyarakat.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi adalah sebagai berikut :

a.  Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa

b.  Tuntutan kenaikan upah dari pekerja.

c.  Kenaikan harga barang impor

d.  Penambahan penawaran uang dengan cara mencetak uang baru

e.  Kekacauan politik dan ekonomi seperti yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998. Akibatnya angka inflasi mencapai 58,5%.

Untuk mengatasi masalah inflasi salah satu caranya yakni dengan operasi pasar untuk meninjau harga supaya harga tidak terlalu tinggi dipasaran, memberikan subsidi untuk membantu masyarakat yang ekonominya masih rendah, dan menurunkan pajak untuk meringankan beban produsen dan konsumen.

Ekonomi Islam di Indonesia

Kajian pemikiran sistem ekonomi berbasis agama. Sebagai bagian integral dari ajaran Islam, pembahasan mengenai ilmu ekonomi sesungguhnya telah berlangsung sejak diturunkannya Alquran kepada umat manusia. Meski demikian, para ulama tidak pernah mengklaim ekonomi sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri. Klaim “economics as a science” sendiri baru muncul pada Abad 19 oleh Alfred Marshall, sehingga ada kesan seolaholah ilmu ekonomi itu lahir dan berkembang di Barat, dengan menafikan peran dunia Islam yang sesungguhnya sangat signifikan. Apalagi hal tersebut diperparah dengan tesis Great Gap Analysis Joseph Schumpeter, yang menyatakan bahwa dunia ini berada dalam masa kegelapan selama kurang lebih 5 abad. Secara umum, periodisasi ilmu ekonomi Islam ini dapat dibagi menjadi tiga tahap besar. Pertama, periode klasik ekonomi Islam, yang dimulai sejak misi kenabian Muhammad SAW hingga tahun 1500 M, tepatnya pada masa kejatuhan Andalusia. Kedua, periode stagnasi dan transisi, dimulai tahun 1500 M hingga 1950 M. Ketiga, periode resurgensi atau kebangkitan kembali, dimulai pada tahun 1950 M hingga sekarang Sejumlah tokoh ulama terkemuka yang menjadi tulang punggung pengembangan teori klasik ekonomi Islam, antara lain adalah Abu Yusuf, Abu Ubaid, al-Ghazali, Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Ibn Khaldun, Al-Maqrizi, dan lain-lain. Karya-karya mereka bahkan masih tetap relevan hingga saat ini. Dari tahap demi tahap pada akhirnya kebangkitan kembali ekonomi Islam di pentas dunia. Hingga saat ini, para ekonom Islam masih melakukan proses reformulasi ilmu ekonomi Islam sebagai sebuah disiplin ilmu yang mampu menjawab berbagai tantangan ekonomi dunia.

Padadasarknya Islam telah memberikan solusi terhadap ketidakadilan dalam praktik ekonomi. Solusi tersebut antara lain:

§  Penegak hukum yang khusus memonitor segala bentuk pelanggaran hak yang dilakukan pelaku usaha( Aravik, 2016:83-84).

§  Hal ini sejalan dengan pemikiran Syarfi.(2004) Berbagai satuan  ekonomi, pelaku ekonomi dan kelembagaan Masyarakat mempunyai hak khiyar. Hak khiyar adalah adalah salah satu ak bagi kedua belah pihak yang melakuka transaksi (akad) ketika terjadi beberapa persoalan dalam transaksi yang  dimaksud. Hak Khiyar sendiri ada terbagi menjadi :

a)    Khiyar Tadlis (Membatalkan karanabarangnya cacat)

b)   Khiyar aib (kurangnya nilai tersebut dikalangan ahli pasar

c)    Khiyar Syarat ( hakpilih) yang dijadikansyarat keduanya.

§  Masyarakat menyelesaikannya dengan media al-shulhu (perdamaian) Masyarakat menyelesaikannya dengan jawatan al-hsibah ( lembaga pengawasan ini bekerja dalam satu hubungan pengaruh mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya ) sehingga berfungsi secara  konsisten. Yang penting adalah bahwa sistem ini mampu menanggapi gangguan luar dan dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang berobah-obah. Suatu sistem ekonomi harus mampu bertahan menghadapi berbagai gangguan perobahan. Selama ini telah lahir bermacam-macam  sistem ekonomi, namun banyak pula kemudian tenggelam dilanda arus perubahan.

Simpulan

Berdasarkan pembahasan di atasdapat dimbil beberapa kesimpulan

1.      Permasalahan dalam ekonomi Islamadalah distribusi yang tidak merata sedangkan konvensional adalah kelangkaan.

2.      Solusi yang ditawarkan Islam antara lain:

a.       Masyarakat mempunyai hak khiyar. Hak khiyar adalah adalah salah satu bagi kedua belah pihak yang melakukan transaksi (akad) ketika terjadi beberapa persoalan dalam transaksi  yang dimaksud.Hak  Khiyar  sendiri  ada  terbagi menjadi  :Khiyar  Tadlis  (Membatalkan karenab arangnya cacat), Khiyar aib (kurangnya nilai tersebut dikalangan ahli pasar,Khiyar Syarat ( hakpilih) yang dijadikansyarat keduanya.

b.      Masyarakat menyelesaikannya dengan media al-shulhu (perdamaian)

c.       Masyarakat menyelesaikannyadengan jawatan al-hsibah (lembaga pengawasan)

 

Daftar Pusaka

Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Ekonomi, Admin sukasada, Kecamatan Sukasada 2019, website : https://bappeda.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/artikel-pembangunan-pertumbuhan-ekonomi-53

PERMASALAHAN EKONOMI SESUNGGUHNYA DALAM ISLAM, Fadilla, Agustus 2017, ISLAMIC BANKING Volume 3 Nomor 1 Edisi Agustus 2017

KRITIK ISLAM TERHADAP SISTEM EKONOMI KONTEMPORER, DARLAINI R. NASUTION dan SYIHABUDIN, Januari -April 2004, KRITIK !SLAM TERHADAP SISTEM EKONOMI KONTEMPORER ,Vol 21, No.100

Ekonomi Kerakyatan Pancasila, Jokow, 2020, website : https://pengabdian.ugm.ac.id /2020/ 05/18/ekonomi-kerakyatan-pancasila/

Konsep Sistem Ekonomi Indonesia, Drs. H. Bambang Hermanto, M.Si. Mas Rasmini, S.E., M.Si., Praktik Bisnis di Indonesia, website : http://repository.ut.ac.id/3868/2/ADBI4441-M1.pdf

Sistem Ekonomi Indonesia dan Karakteristiknya, Aulia Annaisabiru E, 2018, website : https://www.ruangguru.com/blog/sistem-ekonomi-indonesia-dan-karakteristiknya

Sunday, 4 December 2016

Garis-garis besar isi proposal kuantitatif dan kualitatif komunikasi



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Jika sebuah penelitian mengedepankan dasar keingintahuan tentang permasalahan yang terjadi, hendaknya mampu berkolaborasi dengan informasi yang tersusun secara sistematis yang sudah barang tentu mengandung unsur solusi pada permasalahan tersebut. Informasi yang mampu kita serap akan diolah sedemikian rupa agar mampu melihat secara luas permasalahan tersebut dan merumuskannya menjadi sebuah latar belakang masalah.
Setiap penelitian baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif selalu berangkat dari masalah. Namun terdapat perbedaan yang mendasar antara “masalah” dalam penelitian kuantitatif dan “masalah” dalam penelitian kualitatif. Kalau dalam penelitian kuantitatif, “masalah” yang akan dipecahkan melalui penelitian harus jelas, spesifik dan dianggap tidak berubah, tetapi dalam penelitian kualitatif “masalah” yang dibawa oleh peneliti masih remang-remang, bahkan gelap, kompleks dan dinamis. Oleh karena itu, “masalah” dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara, tentatif dan akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada di lapangan.[1]
Latar belakang masalah adalah informasi yang tersusun sistematis berkenaan dengan fenomena dan masalah problematik yang menarik untuk di teliti. Masalah terjadi saat harapan tidak sama dengan realita yang terjadi. Tidak semua masalah adalah fenomena dan menarik. Masalah yang fenomenal adalah saat menjadi perhatian banyak orang dan di bicarakan di berbagai kalangan masyarakat. Untuk itu, saat melakukan penelitian perlu kiranya memanfaatkan situasi yang sedang heboh di masyarakat, televisi, maupun media sosial. Sering kali kita menyaksikan segelintir berita yang menyajikan berbagai macam permasalahan dan diikuti oleh penonton setianya, hingga hal itu kerap menjadi bahan penelitian yang empuk untuk dikaji. Latang belakang masalah dimaksudkan untuk menjelaskan alasan mengapa masalah dalam penelitian ini diteliti, pentingnya permasalahan dan pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut baik dari sisi teoritis dan praktis. Latar belakang masalah adalah dasar atau titik tolak untuk memberikan pemahaman kepada pembaca atau pendengar mengenai apa yang ingin kita sampaikan. Latar belakang yang baik disusun dengan sejelas mungkin dan bila perlu disertasi dengan data atau fakta yang mendukung.
B.     Rumusan Masalah
Menyusun sebuah kerangka berfikir mengenai sebuah masalah tentu bukanlah yang sulit, sebab kita hanya membuat batasan-batasan persoalan yang harus diteliti dan dikaji. Sehingga menjadi tulisan yang bermakna jika diamati berdasarkan persoalan yang berlaku. Rumusan masalah adalah tulisan singkat berupa pertanyaan yang biasanya terletak di awal laporan atau proposal dan biasanya terletak setelah latar belakang yang dijelaskan dalam laporan tersebut. Rumusan masalah digunakan untuk menjelaskan masalah atau isu yang dibahas dokumen tersebut kepada para pembaca. Secara umum, suatu rumusan masalah akan menggarisbawahi fakta-fakta dasar dari masalahnya, menjelaskan alasan masalah itu penting, dan menentukan solusi secepat dan selangsung mungkin. Rumusan masalah sering digunakan di dunia bisnis untuk kepentingan perencanaan tapi dapat juga diperlukan dalam situasi akademis sebagai bagian dari laporan yang bergaya seperti laporan atau proyek tulisan.
Masalah adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi. Sedangkan rumusan masalah adalah pertanyaan penelitian yang disusun berdasarkan masalah yang harus dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data.[2]
C.    Tujuan Penelitian
Visi sebuah penelitian hendaknya mencerminkan arah dan tujuan masalah yang dikaji, lebih kepada manfaat dan kegunaannya pada masyarakat maupun akademik. Dengan begitu, para peneliti mampu menerka kesimpulan setelah masalah ini diketahui dan diteliti lebih lanjut. Dalam beberapa penelitian dimana permasalahannya sangat sederhana terlihat bahwa tujuan sepertinya merupakan pengulangan dari rumusan masalah, hanya saja rumusan masalah dinyatakan dengan pertanyaan, sedangkan tujuan dituangkan dalam bentuk pernyataan yang biasanya diawali dengan kata ingin mengetahui.
Tetapi bila permasalahannya relatif kompleks, permasalahan ini menjadi lebih jelas terjawab bila disusun sebuah tujuan penelitian yang lebih tegas yang memberikan arah bagi pelaksanaan penelitian. Misalnya, bila rumusan masalah mempertanyakan bagaimanakah penerapan model komunikasi pada masyarakat awam, maka jelas akan banyak penafsiran tentang jawaban yang diinginkan dari pertanyaan ini, sehingga perumusan tujuannya harus lebih tegas, misalnya ingin mengetahui langkah-langkah dalam menerapkan model komunikasi antarpersonal pada guru dan murid, atau ingin mengetahui bagaimanakah efek komunikasi politik pada Pilkada 2015.
D.    Kegunaan Penelitian
Hasil dari tujuan penelitian berkaitan erat dengan kegunaan dari penelitian yang sedang diteliti, artinya bahwa ujung dari masalah yang diteliti akan menghasilkan manfaat atau kegunaan pada masing-masing objek. Kegunaan penelitian merupakan dampak dari tercapainya tujuan dan terjawabnya rumusan masalah secara akurat. Manfaat penelitian harus dapat dibedakan antara manfaat teoritis dan manfaat praktisnya. Karena laporan Tesis ini selalu dibuat dengan dukungan beberapa kajian teoritis dan temuan sebelumnya, maka akan mempunyai manfaat teoritis. Manfaat teoritis baik bagi penulis maupun pembaca karya ilmiah tersebut. Sedangkan manfaat praktisnya tergantung pada bentuk penelitian yang dilakukan, terutama untuk penelitian evaluasi dan eksperimen.
E.     Sistematika Penulisan
Dalam setiap penulisan laporan penelitian, tentu mempunyai aturan-aturan penulisan yang mengikuti kaedah tata bahasa dan pengetikan yang komprehensif dalam membuat tulisan penelitian. Hal ini juga sering disebut sistematika penulisan yang menjelaskan tentang rancangan apa saja yang akan dijelaskan pada laporan penelitian tersebut. Sistematika penulisan merupakan penguraian tentang hal-hal yang akan ditulis dalam sebuah karya tulis. Seorang peneliti harus paham tentang sistematika penulisan karya tulis yang akan dibuatnya. Sistematika penulisan pada karya tulis pada umumnya ada tiga bagian. bagian tersebut yaitu bagian awal, isi, dan bagian akhir. Sistematika dalam menulis karya ilmiah mengharuskan para peneliti untuk menjadi pemeran utama dalam menjalankan tata tertib penulisan karya ilmiah dan laporan penelitian.
CONTOH SISTEMATIKA LAPORAN PENELITIAN KUALITATIF
BAB I :  PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Fokus Penelitian
C.     Perumusan Masalah
D.    Tujuan Penelitian
E.     Manfaat Penelitian
F.      Kajian Teori
G.    Pertanyaan Penelitian
BAB II : METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
B.     Pendekatan Penelitian dan Kedudukan Peneliti
C.     Lokasi Penelitian
D.    Tahap-tahap Penelitian
E.     Sumber Data
F.      Prosedur Pengumpulan Data
G.    Pemeriksaan Keabsahan Data
H.    Analisis Data
BAB III :  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA (Hanya yang dikutip saja, diurut berdasarkan abjad)
LAMPIRAN (Catatan lapangan atau field note diberi nomor urutan lampirannya, serta disebut pada bagian isi merujuk pada halaman berapa. Lampiran dilakukan jika dimasukkan ke dalam bagian isi dianggap terlalu mengganggu).








BAB 2
KERANGKA TEORI DAN KONSEP

A.    Teori yang relevan
Teori yang relevan merupakan pisau analisis penelitian dalam memecahkan sebuah masalah, artinya melalui hubungan yang sejalan dengan objek yang diteliti. Dapat juga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan metode 5W-1H (ringkasan dari What, Who, Where, When, Why, dan How).
Sedikit mengulang perbedaan metode penelitian guna memaksimalkan penggunaan teori yang relevan ke depannya, dapat dipahami bahwa istilah “kualitatif” yang dimaksud penulisnya dan tanpa mendalami filsafat ilmu yang berkaitan dengan istilah “kualitatif” dan teori yang melandasinya, orang sering mempertentangkan istilah “kualitatif” dengan istilah “kuantitatif”, seolah-olah keduanya saling meniadakan. Menggambarkan perbandingan salah-kaprah antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif sebagai berikut :[3]
Penelitian Kuantitatif
Penelitian Kualitatif
Angka-angka
Parametrik
Statistik
Empiris
Objektif
Deduktif
Pengujian Hipotesis
Eksperimental
Laboratorium
Artifisial
Dapat digeneralisasikan
Tanpa angka-angka
Nonparametrik
Tanpa Statistik
Tidak empiris
Subjektif
Induktif
Penjelajahan (Exploratory)
Noneksperimental
Dunia nyata
Alamiah
Tidak dapat digeneralisasikan

B.     Hasil penelitian terdahulu yang relevan
Guna menambah arahan dan bimbingan dijalan yang benar, peneliti wajib memiliki referensi penelitiannya. Dalam artian, adanya acuan dari penelitian terdahulu yang telah mengkaji masalah tersebut dengan kacamata teori yang sama. Penelitian yang sedang dikerjakan perlu melirik konsep-konsep apa saja yang telah dirumuskan oleh para peneliti terdahulu sehingga memperoleh data sekunder yang tepat dan khusus.
Bentuk yang relevan juga menganjurkan peneliti untuk menyamakan orientasi penelitiannya dengan hasil penelitian terdahulu dalam bentuk hubungan kepentingan penelitian. Dengan demikian, hal ini berfungsi sebagai pembimbing ketika menyusun konsep penelitian yang akan diteliti walaupun mungkin berbeda dari segi subjek dan objeknya.
C.    Batasan pengertian konsep
Dalam ritual penyusunan konsep penelitian, sangat dianjurkan kepada peneliti untuk membuat batasan-batasan permasalahan yang akan dikaji dan diteliti. Sebab bilamana tidak ada batasan yang membingkainya, maka sudah dipastikan akan menjadi rancuh dan tidak tertuju kepada tujuan awal penelitian ini dilakukan.
Batasan ini memegang peranan penting dalam tataran karya ilmiah, khususnya metode kualitatif. Begitu pula ketika peneliti membatasi objeknya, wilayah penelitiannya, jumlahnya, jenisnya dan lain-lain.
D.    Hipotesis
Hubungan diantara variabel-variabel yang diamati disebut hipotesis. Hipotesis muncul atau ada sebagai akibat dari proses berfikir deduktif atau operasionalisasi dari teori atau proposisi yang disusun oleh peneliti. Dengan demikian, hipotesis dapat dikatakan sebagai “pernyataan atau statement teoretis yang dibuat dalam bentuk siap uji, atau pernyataan tentatif mengenai fenomena atau realitas. Dalam merumuskan hipotesis, peneliti menyusun dua rumusan hipotesis agar pengujian dapat dilakukan, yaitu hipotesis kerja (Hk, H1, H2, H3, dst) dan hipotesis nol (Ho). Dalam pengujian, harapan peneliti adalah menolak hipotesis nol dan menerima hipotesis kerja. Hipotesis tersebut biasanya dirumuskan secara berlawanan, sebagai contoh :[4]
H1 : Tingkat pendidikan berkaitan dengan pemahaman membaca artikel pada majalah X.
H0 : Tingkat pendidikan tidak berkaitan dengan pemahaman membaca artikel pada majalah X.
Hipotesis juga berpeluang menciptakan batasan masalah, teori baru hingga kesimpulan penelitian sementara dari munculnya pernyataan-pernyataan yang telah dirumuskan sehingga membentuk pemikiran baru di benak si peneliti agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Laporan yang diterima dari beberapa sumber lalu dikaitkan dengan dugaan-dugaan sementara berfungsi secara efektif, apalagi membantu penyaringan atau pemilahan terhadap minat penelitian.
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Pendekatan penelitian
Penelitian merupakan suatu proses yang panjang untuk menggali, menemukan dan membuktikan keingintahuan serta keyakinan peneliti tentang kebenaran yang diyakininya. Fenomena yang selama ini ditemukan dalam realitas, kemudian dikaitkan dengan berbagai asumsi teoretis, harus menghasilkan berbagai petunjuk pembuktian keyakinan tersebut.[5]
B.     Lokasi dan waktu penelitian
Pemilihan lokasi sebagai tempat penelitian berlangsung bergantung pada kebutuhan pencarian hasil penelitian tersebut, jika meneliti tentang konflik keagamaan yang disebabkan komunikasi yang buruk pada wilayah luar kota, maka peneliti wajib berkunjung dan hadir di lokasi tersebut.
Sebagai tahap awal rencana kesuksesan penelitian, peneliti perlu menetapkan, menyusun, merencanakan tentang kegiatan penelitian tersebut. Semakin rapi dan disiplin pengaturan waktu penelitiannya, maka dapat dipastikan buah hasil penelitian akan dicapai pada tanggal yang diinginkan.
C.    Populasi dan sampel
Populasi adalah seluruh unit-unit yang darinya sampel dipilih. Populasi dapat berupa organisme, orang atau sekelompok orang, masyarakat, organisasi, benda, objek, peristiwa atau laporan yang semuanya memiliki ciri dan harus didefenisikan secara spesifik dan tidak secara mendua. Meneliti sampel atau bagian dari populasi disebut penelitian sampel. Sampel adalah satu subset atau tiap bagian dari populasi berdasarkan apakah itu representatif atau tidak. Sampel merupakan bagian tertentu yang dipilih dari populasi.[6]
D.    Sumber data
1.      Data Primer
Data primer adalah yang langsung diperoleh dari sumber data pertama di lokasi penelitian atau objek penelitian. Kalau seorang meneliti, “Pengaruh fokus tema siaran TV terhadap tingkat rating siaran”, kemudian mengambil data langsung kepada pemirsa acara TV tersebut, maka itu artinya peneliti telah menggunakan sumber data primer. Semua ini merupakan data mentah yang kelak akan diproses untuk tujuan-tujuan tertentu sesuai dengan kebutuhannya.[7]
2.      Data Sekunder
Data sekunder berasal dari data primer yang telah diolah lebih lanjut menjadi bentuk-bentuk seperti tabel, grafik, diagram, gambar dan sebagainya, sehingga menjadi lebih informatif bagi pihak lain.[8]
3.      Data Time Series dan Cross Section
Data time series atau disebut juga data deret waktu merupakan sekumpulan data dari suatu fenomena tertentu yang didapat dalam beberapa interval waktu tertentu, misalnya dalam waktu mingguan, bulanan, atau tahunan.[9]
4.      Internet sebagai sumber data
Bagi para peneliti, internet merupakan sumber ilmu pengetahuan yang lengkap dan selalu baru. Banyak fasilitas yang disediakan oleh web untuk keperluan riset. Diantaranya ada istilah, e-Library, e-Journal, e-Book, e-News, e-Dictionary, e-Laboratory dan masih banyak lagi fasilitas lainnya. Internet diibaratkan sebagai perpustakaan yang sangat besar dan sering disebut dengan istilah e-Library. Perpustakaan ini diharapkan mampu menampung kajian ilmu dan hasil penelitian dalam bentuk format digital, sehingga memudahkan untuk para peneliti. Banyak jurnal ilmiah (e-journal) yang up-to-date dan diberikan secara gratis. Jurnal ilmiah ini pada umumnya sudah dikelompokkan dalam bidang ilmu tertentu yang dipublikasikan dalam website yang khusus dalam bidang ilmu tersebut.[10]
E.     Alat pengumpul data
Pengumpulan data termasuk salah satu kegiatan penting dalam penelitian karena kebenaran hasil penelitian sangat ditentukan oleh kebenaran data yang dikumpulkan. Jika data yang dikumpulkan tidak sesuai dengan kenyataan, maka besar kemungkinan, penelitian menghasilkan kesimpulan yang keliru.[11]
F.     Pengukuran variabel
Perhatian peneliti yang terukur dan terpercaya menentukan nasib dari hasil penelitian tersebut, untuk itulah digunakan pengukuran variabel, yang diketahui bahwa variabel merupakan segala sesuatu yang diberi berbagai nilai. Memformulasikan masalah penelitian dengan mengikutsertakan beberapa variabel.
G.    Teknik analisis data
Data yang telah diterima dan didapatkan melalui berbagai sumber, dianalisis sedemikian rupa dengan nilai-nilai kritis si peneliti. Sehingga menghasilkan kesimpulan yang meyakinkan untuk diuji dan dipublikasikan.
Analisis isi merupakan metode atau cara untuk mempelajari dan menganalisis komunikasi secara sistematik, objektif, dan kuantitatif dalam mengukur variabel-variabel. Bisa juga disebut metode observasi sekaligus pengukuran yang berguna untuk mengetahui variabel-variabel, seperti kebutuhan, sikap, nilai-nilai, stereotif, etnosentrisme dan kreativitas.[12]
H.    Beberapa desain dan contoh kerangka penelitian
Menurut Ardial, biasanya ada beberapa contoh desain proposal penelitian kuantitatif dan kualitatif diantaranya adalah :
1.       Identifikasi dan pemilihan masalah penelitian
2.       Pemilihan kerangka konseptual untuk masalah penelitian serta hubungan-hubungannya dengan penelitian
3.       Memformulasikan masalah penelitian termasuk membuat spesifikasi dari tujuan, luas jangkau (scope) dan hipotesis untuk diuji
4.       Membangun penyelidikan dan percobaan
5.       Memilih serta memberi defenisi terhadap pengukuran variabel
6.       Memilih prosedur dan teknik sampling untuk mengumpul data
7.       Membuat coding, serta mengadakan editing dan prosesing data
8.       Menganalisis data serta pemilihan prosedur statistik untuk mengadakan generalisasi serta inferensi statistik
9.       Pelaporan hasil penelitian, termasuk proses penelitian, diskusi serta interpretasi data, generalisasi, kekurangan dalam penemuan, serta menganjurkan beberapa saran dan kerja penelitian yang akan datang



CONTOH KERANGKA USULAN PENELITIAN KUALITATIF.[13]
a.
Judul Penelitian
Singkat, tetapi cukup jelas menggambarkan tema penelitian. Jumlah kata sesuaikan dengan kebijakan jurusan. Biasanya paling banyak 14 kata.
b.
Ruang Lingkup / Bidang ilmu pengetahuan
Komunikasi Islam
c.
Latar belakang masalah
Penjelasan singkat situasi atau keadaan dibalik masalah yang akan diteliti, alasan-alasan mengapa hal itu penting untuk diteliti, dan jelaskan pula kegunaan teoritis dan praktis hasil penelitian itu.
d.
Studi Pustaka (tinjauan pustaka
Bagian ini berisikan :
1). Penjelasan singkat tentang teori-teori yang berkaitan dengan masalah yang diajukan. Kajian pustaka memuat temuan teori dan hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan masalah yang akan diteliti. Temuan tersebut adakalanya mendukung atau sebaliknya, bertentangan dengan pendapat peneliti. Dengan kajian pustaka ini, diperoleh gambaran yang lengkap dan sistematis tentang duduknya permasalahan yang diteliti. Untuk kutipan-kutipan harus dicantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2). Daftar pustaka, yaitu daftar dari semua bahan bacaan yang dikutip dalam penelaahan studi pustaka di atas.
e.
Tujuan Penelitian
Tujuan  penelitian dapat berupa salah satu atau kombinasi dari tujuan teoritis dan tujuan praktis.
f.
Metodologi
1). Tempat Penelitian.
2). Penentuan Responden
3). Metode dan teknik pengumpulan data : Peneliti bertindak sebagai instrumen.
4). Alat pengumpulan data : Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mempelajari serta mengumpulkan data-data/wawancara, literatur, dan sumber bacaan yang mendukung penelitian.
5). Analisis data : Berdasarkan wawancara yang dihasilkan dalam pengumpulan data, direduksi dan dimasukkan ke dalam pola, kategori, fokus atau tema tertentu yang sesuai dan akhirnya peneliti dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan tertentu dari hasil pemahaman dan pengertiannya.
g.
Jadwal Penelitian
Jadwal rencana pelaksanaan penelitian dijabarkan dalam bentuk satuan dan disusun dalam bentuk Gant Chart, secara kronologis menggambarkan kegiatan masing-masing.















BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Keluasan berfikir dan kedalaman peneliti dalam mengkaji suatu permasalahan sangat bergantung pada kepatuhan dalam penulisan yang syarat akan makna. Berbagai macam teknik yang telah ditentukan dan diuji konsepnya dalam mengidentifikasi masalah sekaligus pengertian-pengertian diatas menjelaskan makna sebuah penelitian sangat kompleks dan komprehensif.
Cara untuk memperoleh informasi dan mendapatkan hasil kesimpulan pun melalui upaya yang tidak mudah, banyak rintangan dan kendala yang ditemukan saat berhadapan langsung pada garis depan objek yang diteliti. Untuk itu, dalam posisi calon yang akan meneliti sebuah permasalahan, makalah ini berguna saat kebingungan dalam mengambil tema dan menyelesaikan pertanyaan seputar kasus penelitian kuantitatif maupun kualitatif.
B.     Saran
Kemungkinan penambahan literatur tentang aspek penelitian sudah seharusnya semakin ditingkatkan setiap tahun. Dari sisi lain, kekayaan tulisan dalam berbagai sumber dapat menambah semangat calon peneliti untuk bergerak dan bereksperimen.











DAFTAR PUSTAKA
Ardial, “Paradigma dan Model Penelitian Komunikasi” (Bumi Aksara : Jakarta, 2014),
Atwar Bajari, “Metode Penelitian Komunikasi ; Prosedur, Tren dan Etika” (Simbiosa
Rekatama Media : Bandung, 2015)
Deddy Mulyana dan Solatun “Metode Penelitian Komunikasi Contoh-Contoh Penelitian
Kualitatif dan Pendekatan Praktis” (Rosdakarya : Bandung, 2013)
Husein Umar, “Metode Riset Komunikasi Organisasi”, (Gramedia : Jakarta, 2002)
Sugiyono, “Memahami Penelitian Kualitatif ; Dilengkapi Contoh Proposal Dan Laporan
Penelitian” (Alfabeta : Bandung, 2005)
Syahrum dan Salim, “Metodologi Penelitian Kuantitatif” (Citapustaka Media : Bandung,
2007)
Ulber Silalahi, “Metode Penelitian Sosial”, (Refika Aditama : Bandung, 2001), hlm. 253-254





[1] Sugiyono, “Memahami Penelitian Kualitatif ; Dilengkapi Contoh Proposal Dan Laporan Penelitian” (Alfabeta : Bandung, 2005) hlm.30
[2] Ibid, hlm.31
[3] Deddy Mulyana dan Solatun “Metode Penelitian Komunikasi Contoh-Contoh Penelitian Kualitatif dan Pendekatan Praktis” (Rosdakarya : Bandung, 2013) hlm. 8
[4] Atwar Bajari, “Metode Penelitian Komunikasi ; Prosedur, Tren dan Etika” (Simbiosa Rekatama Media : Bandung, 2015), hlm. 70
[5] Ibid, hlm. 71
[6] Ulber Silalahi, “Metode Penelitian Sosial”, (Refika Aditama : Bandung, 2001), hlm. 253-254
[7] Ardial, “Paradigma dan Model Penelitian Komunikasi” (Bumi Aksara : Jakarta, 2014), hlm.359-360
[8] Ibid, hlm.360
[9] Husein Umar, “Metode Riset Komunikasi Organisasi”, (Gramedia : Jakarta, 2002), hlm.8
[10] Ardial, “Paradigma dan Model Penelitian Komunikasi” (Bumi Aksara : Jakarta, 2014), hlm.362
[11] Syahrum dan Salim, “Metodologi Penelitian Kuantitatif” (Citapustaka Media : Bandung, 2007) hlm.147
[12] Atwar Bajari, “Metode Penelitian Komunikasi ; Prosedur, Tren dan Etika” (Simbiosa Rekatama Media : Bandung, 2015), hlm. 108
[13] Ardial, “Paradigma dan Model Penelitian Komunikasi” (Bumi Aksara : Jakarta, 2014), hlm.493-494