Sunday, 11 November 2012

Perkembangan Studi Al-quran


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Alquran merupakan kitab suci yang berisi petunjuk untuk kehidupan umat manusia di dunia ini. Oleh karena itu menjadi amat penting bagi kita sebagai umat Islam untuk memahami Alquran dengan sebaik-baiknya sehingga Alquran bisa kita pahami dengan benar lalu kita gunakan sebagai pedoman hidup di dunia ini dengan sebenar-benarnya. Alquran adalah risalah Allah kepada manusia semuanya. Maka tidaklah aneh apabila Alquran dapat memenuhi semua tuntutan kemanusiaan.
Alquran terdiri dari 30 juz, 114 surah, 6666 ayat ( menurut Ibnu Abbas : 6616 ayat ), 77.439  kosa kata, dan 325.345 huruf. Sekaligus sebagai mukjizat yang terbesar diantara mukjizat-mukjizat yang lain[1]. Turunnya Alquran dalam kurun waktu  23 tahun, dibagi menjadi dua fase. Pertama diturunkan di Mekkah yang biasa disebut dengan ayat-ayat Makiyah. Dan yang kedua diturunkan di Madinah disebut dengan ayat-ayat Madaniyah.
Alquran sebagai kitab terakhir dimaksudkan untuk menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia (hudan linnas) sampai akhir zaman. Alquran tidak mengkhususkan pembicaraannya kepada bangsa tertentu, seperti kepada bangsa Arab saja, misalnya. Begitu juga ia tidak mengkhususkan pembicaraannya kepada satu kelompok tertentu saja, seperti kepada kaum Muslim saja. Melainkan, ia juga mengarahkan pembicaraannya kepada orang-orang non-Muslim. Di dalamnya terkandung nilai-nilai yang luhur yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dalam berhubungan dengan Tuhan maupun hubungan manusia dengan sesama manusia lainnya dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Fazlur Rahman mengemukakan tentang tema-tema pokok yang terkandung dalam Alquran yang meliputi : tentang Ketuhanan, kemanusiaan (individu/masyarakat), alam semesta, kenabian, eskatologi, setan / kejahatan dan masyarakat muslim.[2]
Indahnya gaya  bahasa Alquran beserta beberpa petunjuk tentang kisah kisah yang telah lalu ataupun kisah masa depan dan beberapa mukjizat lainnya telah banyak menarik perhatian baik bagi kalangan umat Muslim sendiri  bahkan dari kalangan Barat Untuk mengkaji dan meneliti dari keagungan Alquran yang tentunya tidak akan pernah habis untuk dikaji dan digali hingga akhir zaman.
 Dalam makalah yang cukup sederhana ini penulis ingin mengutarakan defenisi /pengertian Alquran, wahyu, ilham, kalam, Fungsi Alquran, metode penafsiran alquran , Jenis Tafsir Alquran beserta para mufasir dan karyanya serta perkembangan studi Alquran.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa itu Alquraan, Wahyu , ilham dan kalam ?
2.      Apa saja Fungsi Alquran ?
3.      Bagaimana metode penafsiran Alquran, jenis tafsir Alquran beserta mufasir dan karya karyanya ?
4.      Bagaimana perkembangan studi Alquran

C.     MANFAAT  YANG DIPEROLEH
1.      Mengetahui defenisi Alquran , wahyu , ilham dan kalam
2.      Mengetahui Fungsi Alquran
3.      Mengetahui metode penafsiran Alquran, jenis tafsir Alquran beserta mufasir dan karya karyanya ?
4.      Mengetahui bagaimana perkembangan studi Alquran








BAB II
PEMBAHASAN

A.     ILMU AL-QUR’AN
            Yang dimaksud dengan illmu Al-Qur’an adalah seluruh pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’anul Majid yang abadi, baik dari segi penyusunannya, pengumpulannya, sistematikanya, perbedaan antara surat makiyah dan madaniyah, pengetahuan tentang nasikh dan mansukh, pembahasan tentang ayat-ayat yang muhkamat dan mutasyabihat, serta pembahasan-pembahasan lain yang berhubungan dengan Al-Qur’an.
            Adapun tujuan dari studi ilmu Al-Qur’an adalah:
1.      Memahami kalam Allah Azza Wajalla, sejalan dengan keterangan dan penjelasan dari Rasulullah SAW.serta sejalan pula dengan keterangan yang dikutip oleh para sahabat dan tabi’in tentang interpretasi mereka mengenai Al Qur’an.
2.      Mengetahui cara dan gaya yang dipergunakan oleh para Mufassir dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan disertai penjelasan tentang tokoh-tokoh ahli tafsir yang ternama serta kelebihan-kelebihannya.
3.      Mengetahui persyaratan-persyaratan dalam menafsirkan Al-qur’an.
4.      Mengetahui ilmu-ilmu lain yang dibutuhkan untuk itu.

1.      Definisi Al-Qur’an
            Dalam kajian etimologi Al-Qur’an adalah kata mashdar(kata benda), bersinonim dengan kata قراة, sebagaimana di kemukakan pada ayat 17-18 surat Al-Qiyamah, yang artinya:
Sesungguhnya atas tanggapan kamilah mengumpulkannya didalam dadamu dan membuatmu pandai membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu.
            Jadi makna قران  adalah bacaan. Ketika kata ini dipakai sebagai nama bagi kalamullah yang diturunkan kepada Rasul Muhammad saw., maka makna mashdar tersebut dijadikan makna maf’ul. Tegasnya makna bacaan bertukar menjadi yang dibaca.
Menurut terminology pengertian al-Qur’an adalah:
كلام الله المترل على النيى صلى الله عليه وسلم المكتوب فى المصاحف المنقول با التواتر المتعبد بتلاوته
Kalam yang bersifat mu’jizat, yang diturunkan atas Rasul saw., ditulis pada beberapa mushaf,diriwayatkan secara nutawatir, dan menjadi ibadah membacanya.[3]
            Al- Qur’an adalah kalam Allah yang tiada tandingannya(mukjizat), diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., penutup para Nabi dan Rasul dengan perantaraan Malaikat Jibril Alaihis salam, dimulai dengan surat Al-fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas, dan ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta mempelajarinya merupakan suatu ibadah.
Nama-nama Alqur’an dan Alasan penamaannya:
1.      Alasan dinamainya dengan AlQur’an  ialah karena banyak kata-kata AlQur’an terdapat dalam ayat, antara lain firman Allah SWT : surat qaaf :
2.      Alasan Al dinamai dengan Al-furqan sebagaimana tertera dalam firman Allah, surat Al-furqan:1)
3.      Alasan Al dinamai dengan Az-Zikr, sebagaimana tertera dalam Al, surat Al-hijr : 9
4.      Alasan diberi nama dengan Al-kitab sebagaimana tertera dalam firman Allah SWT, surat  Ad- Dukhan ; 1-3.[4]

2.      Wahyu
            Al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan kepada hamba-Nya Muhammad SAW. Beliau mengetahui ayat-ayat Allah di mana sebelumnya ia sendiri tidak mengetahuinya sama sekali. Allah berfirman: surat Al kahfi ayat 1-2
Yang artinya:
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al Qur’an)  dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik.
Selanjutnya Allah berfirman:
Dan tidak ada bagi seseorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (As-Syura:51)
            Kata wahyu dalam ayat ini adalah wahyu Allah dan kata ruh merupakan ruh Al-amin, Jibril as. Wahyu yang diturunkan ke dalam sanubari Rasulullah saw.diterimanya dengan cara berbeda, terkadang datang seperti bunyi dengan lonceng, menyerupai malaikat, suara seperti gemuruh lebah, atau dengan cara ilham dan mimpi yang benar. Sementara itu, wahyu yang diterimanya pada malam isra’ adalah pembicaraan yang tanpa perantara. Inilah sunnatullah yang terdapat di seputar proses turunnya wahyu.[5]
            Wahyu juga merupakan sesuatu yang diwahyukan, dimanifestasikan, disingkapkan atau diumumkan. Ia adalah sebuah pencerahan, sebuah bukti atas realitas dan sebuah penegasan kebenaran. Ia adalah sebuah tanda yang jelas, disebuah bukti atau indikasi. Makna atau signifikansi, bagi seorang pemerhati, yang harus diamati, direnungkan dan dipahami. Setiap gagasan, saran, pemikiran, penemuan, ilmiah, tatanan sosial yang legaliter, dan ditemukannya kebenaran ilahi adalah sebuah wahyu karena ia memperkaya pengetahuan, petunjuk dan kesejahteraan manusia serta membebaskan pikiran-pikiran, moral dan emosi-emosi yang terbelenggu dan meninggikan harkat dan martabat manusia-manusia yang tertindas oleh kekuatan-kekuatan kezaliman, tirani dan tahyul.
Jagat raya, bumi, langit matahari dan bulan, siang dan malam terang dan gelap, pergantian musim, semuanya merupakan wahyu dan tanda-tanda bagi orang-orang yang hidup dan memiliki kebijaksanaan dan wawasan; orang-orang yang memiliki mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hati untuk merasakan, dan otak untuk berpikir dan memahami.
            Gejala-gejala Alam, sosial dan historis dalam semua manifestasinya, misteri dan keajaiban, semuanya adalah wahyu, tanda-tanda dan bukti kebenaran bagi siapapun yang dapat mengeskplorasinya, menyelidikinya dan menemukan kebenaran serta memahaminya.[6]

3.      Ilham
Kata ilham berasal dari kata yang berarti menelan. Ketika berubah ke wazan if’al, yakni alhma yulhimu ilhaman, maka kata ilham bermakna menelan dalam arti menghujamkan ke dalam jiwa, Allah berfirman;
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.(QS. Asy-Syams : 8)
Muhammad Rasyid Ridha dalam Al-Wahyul Muhammadi memberikan pengertian, bahwa ilham adalah suatu perasaan emosional yang diyakini oleh jiwa yang karnanya jiwa itu terdorong untuk melakukan yang dikehendakinya oleh dorongan ilham itu, tanpa disertai kesadaran jiwa sendiri dari mana datangnya, keadaannya hamper sama dengan persaan lapar, dahaga, sedih, senang dan sebagainya.

 Persamaan dan perbedaan Wahyu dengan Ilham
v  Persamaan wahyu dengan ilham
1.      Keduanya sama-sama diterima oleh manusia
2.      Keduanya sama-sama menimbulkan pemahaman dalam batin
3.      Keduanya sama-sama menimbulkan keyakinan
4.      Keduanya tidak diberikan pada makhluk binatang
5.      Keduanya sama-sama diberikan demi kemaslahatan
6.      Keduanya sama-sama merupakan pemberian Allah SWT


v  Perbedaan wahyu dengan ilham
1.      wahyu datangnya melalui kehadiran malaikat sedangkan ilham melalui penghunjaman langsung oleh allah kepada yang di kehendakinya
2.      wahyu diterima oleh manusia pilihan allah yang mengemban tugas kenabian atau kerosulan ,sedang ilham dapat di terima oleh siapapun, baik pada waktu pintu kenabian belum tertutup maupun setelahnya
3.      wahyu diturunkan dengan tujuan untuk kemaslahatan seluruh umat manusia atau umat tertentu, sedangkan ilham hanya untuk kemaslahatan yang menerimanya dan tidak di bebani kewajiban untuk manyampaikan pada orang lain
4.      wahyu tidak dapat diminta kepada Allah agar di turunkan pada waktu tertentu ,sedangkan ilham menurut sebagian ulama dapat dim inta kepada Allah melalui cara membersihkan diri dan memprbanyak taqorub pada Allah
5.      wahyu pintunya telah tertutup, bersamaan tugas kenabian yang di emban nabi Muhammad SAW berakhir, sedangkan ilham pintuinya masih terbuka selama masih ada manusia dan berlaku sepanjang masa.[7]
                                                                                                                          



C.    METODE PENAFSIRAN ALQUR’AN
1.      Pengertian tafsir
            Tafsir menurut lughat (bahasa)  ialah menerangkan dan menyatakan, sedangkan menurut istilah adalah sebagai mensyarahkan alqur’an, menerangkan maknanya dan menjelaskan apa yang dikehendakinya dengan nashnya atau dengan isyaratnya. Tafsir pada asalnya adalah membuka dan melahirkan, dan  istilah syara’ sebagai penjelasan makna ayat urusannya, kisahnya dan sebab diturunkannya ayat, dengan lafadz yang menunjukkan kepadanya secara terang.
             Kata tafsir diambil dari kata tafsirah, yaitu perkakas yang dipergunakan tabib untuk mengetahui penyakit orang sakit. Tafsir diambil dari riwayat dan dirayat, yakni: ilmu lughat, nahwu tashrif, ilmu balagah, ushul fiqih dan dari ilmu asbabul nuzul, serta nasikh dan mansukh. Tujuan (ghayah) mempelajari tafsir ialah memahamkan makna-makna alqur’an, hukum, hikmah, akhlaq dan petunjuknya yang lain untuk memperoleh kebahagian dunia dan akhirat. Maka dengan demikian nyatalah bahwa faedah yang kita peroleh  dari mempelajari tafsir tersebut adlah “terpelihara dari salah memahami alqur’an), sedang maksud yang diharap dari mempelajarinya ialah mengetahui petunjuk alqur’an, hukumnya dengan cara yang tepat. Kata al-Baghawi: Tafsir itu adalah memperkatakan sebab-sebab turun ayat, keadaa-keadaanya, dan kisah-kisahnya [9].
2.       Pengertian ilmu tafsir
Ilmu tafsir adalah suatu ilmu yang dibahaskan didalamnya cara menuturkan lafadz-lafadz alqur’an, baik mengenai kata tunggal maupun mengenai kata-kata tarkib dan makan-maknanya dan dipertanggungkan oleh keadaan susunan dan beberapa kesempurnaan bagi yang demikian seperti mengetahui naskh, sebab nuzul, kisah yang menyatakan apa yang tidak terang(mubham) didalam alqur’an dan lain-lainya yang mempunyai hubungan raapat dengannya.
Pokok pembicaraan ilmu tafsir adalah alqur’an dari segi penjelasan dan maknanya. Ilmu tafsir bukanlah sarahan atau terjemahaan yang terdapat dalam kitab tafsir.sedangkan perbedaan ilmu tafsir dengan ulumul qur’an ialah bahwa ilmu tafsir adalah merupakan cabang dari ulumul qur’an; ilmu tafsir membahas alqur’an dari segi penjelasan dan makna sedangkan uluml qur’an membahas alqur’an itu dari segi seperti qiraat, adab membaca alqur’an, pengumpulan ayat-ayat dan surah-surahnya dan lain serta ditambah dengan ilmu tafsir itu srndiri. Ilmu tafsir merupakan ilmu untu menafsirkan dan memahami alqur’an dengan baik dan jelas benar[10].
3.      Ilmu Yang Diperlukan Oleh Seseorang Penafsir
            Ilmu yang dihajati oleh orang yang ingin memperoleh keahlian dalam menafsirkan Alqur’an  ialah.
a.       Lughat Arabiyah: dengan dialah diketahui syarah kata-kata tuggal. Kata mujtahid “ orang yang tidak mengetahui seluruh bahasa arab  tidak boleh menafsirkan alqur’an
b.      Gramatika bahasa arab, yaitu undang-undang  atau aturan baikmengenai kata-kata tunggalnya, maupun mengenai tarkib-tarkibnya. Tegasnya mengeetahui ilmu tashrif dan ilmu nahwu.
c.       Ilmu ma’ani, bayan dan badi’. Dengan ilmu ma’ani diketahui khasiat susunan pembicaraan dari segi memberi pengertian. Dengan ilmu bayan, diketahui khasiat susunan perkataan yang berlain-lainan. Dengan ilmu badi’ diketahui jalan-jalan keindahan pembicaraan.
d.      Dapat menentukan yang mubham. Dapat menjalaskan yang mujmal dan dapat mengetahui sebab nuzul dan naskh. Penjelasan ini diambil dari hadist.
e.       Mengetahui ijmal, kalam
f.       Ilmu qiraat. Dengan ilmu qiraat dapat diketahui bagaimana kita menyebutkan kalimat alqur’an dan dengan dialah kita dapat tarjihkan.
g.      Ilmu ushuluddin (Ilmu Tauhid). Dengan ilmu tauhid kita dapat mengetahui ayat-ayat yang menunjukkan kepada sifat-sifat Allah yang jaiz, yang mustahil atas sebahagiannya.
h.      Ilmu ushul fiqih. Dengan ilmu ushul fiqih dapat diketahui nentuk istidlal (menjadikan dalil) bagi hukum dan cara mengistimbathkan hukum.
i.        Ilmu asbabul nuzul dan qisah-qisah. Dengan ilmu asbabul nuzul dapat diketahui maksud ayat yang diturunkan.
j.        Mengetahui hadits-hadist. Dengan hadits ini dapat diketahui bahwa mana hadist dho’if dan mana hadits yang kuat untuk dijadikan sebagai dalil hukum[11]

4.      Pengertian Metode Tafsir
            Kata metode berasal dari yunani “methodos” yang berarti “ ccara atau jalan”. Didalam bahasa inggris kata ini ditulis dengan “ method” dan bahasa arab menerjamahkan dengan “ thariqat dan manhaj”. Didalam pemakaian bahasa Indonesia kata tersebut mengandung arti “ cara yang teratur dan berpikir baik-baik untuk mencapai maksud; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang tertentu”.
            Pengertian metode yang umum itu dapat digunakan pada berbagai objek, baik berhubungan dengan pemikiran dan penalran akal, atau menyangkut pekerjaan fisik. Jadi dapat dikatakan metode adalah salah satu sarana yang amat penting untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Adapun metodologi tafsir ialah ilmu tentang metode menafsiran alqur’an. Dengan demikian dapat kita membedakan dua istilah yaitu, metode tafsir sebagai cara menafsirkan alqur’an sedangkan metodologi tafsir sebagai lmu tentang cara tersebut. Jadi metode tafsir merupakan kerangka atau kaedah yang digunakan dalam menafsirkan ayat alqur’andan seni atau teknik ialah cara yang dipakai dalam menerapakn kaedah yang telah tertuang dalam metode. Dengan demikian satu metode yang sama dapat  dapat diterapkan dalam berbagai teknik penyampaian yang berbeda  sessuai dengan gaya dan latar belakang pengetahuan dan pengalaman masing-masing mufassir. Sedangkan metodologi tafsir adalah pembahasan ilmiah dan konseptual tentang metode-metode penafsiran alqur’an [12].
            Muhammad Husein adz-dzahabi menanggapi perkataan ibnu khaldun pada  muqaddimahnya yang menempatkan shahabat rasul saw. Sebagai orang yang memahami alqur’an  karena alqur’an diturunkan dalam bahasa mereka. Paling tidak ada dua alasan yang dikemukakan Muhammad husein adz-dzahabi:
pertama meskipun sahabat rasul orang arab dan berbahasa dengan bahasa arab, mereka hanya mengetahui secara umun ayat alqur’an yaitu zahirnya dan hukum-hukumnya. Pada hal alqur’an mempunyai makna batin dan makna-makna yang memerlukan pembahasan dan pemikiran bahkan dalam hal-hal tertentu para sahabat itu mempertanyakan kepada rasul.
Alasan kedua adalah kenyataan pada kitab-kitab yang kita temukan sekarang banyak perbedaan pendapat mereka dari segi bahasa. Dalam kedua pandangan tentang kemampuan sahabat rasul saw. Memahami alqur’an, kedua ulama sepakat bahwa secara lembaga shahabat rasul saw, ditinggalkan  rasuk saw dalam keadaan mampu memehami alqur’an al-karim. Sebab itulah tafsir alqur’an yang disampaikan sahabat rasul hukumnya marfu’,  artinya dihukumkan sebagai tafsir yang disampaikan rasul saw [13]. Ulama membagi tafsir alqur’an berdasarkan metode penafsiran  menjadi tiga macam, yaitu:
a.      Tafsir Al-riwayah/ Tafsir Bi Al-ma’tsur
Tafsir  bi al-ma’tsur, kalau dilihat dari makna etimologinya tafsir tersebut bersumber dari atsar. Ma’tsur adalah isim fail dari atsara, artinya yang diriwatatkan, secara terminology adalah sesuatu  tafsir yang terdapat dalam alqur’an atau sunnah atau pendapat shahabat sebagai penjelasan untuk kehendak allah ta’ala dari kitabnya.Ada ulama yang memasukkan pendapat yang diriwayatkan daari tabiin  kedalam bagian tafsir al-ma’tsur ini. Semua yang tersebut diatas dimaksudkan merupakan penjelasan dari kehendak allah ta’ala dari nash-nash alqur’an.
1)      Tafsir alqur’an dengan alqur’an
            Adanya tafsir ayat dengan ayat dimungkinkan karena sebagian  ayat alqur’an merupakan ungkapan yang ringkass sebagian ayat dan ada ungkapannya panjang dan rinci, unkapannya yang umum pada sebagian ayat dan unkapan yang khusus pada ayat yang lain juga, sebbagian ayat di sampaikan dengan unkapan yang muthlak sedang dibagian yang lain diunkapakan dengan muqayyad dan seterusnya. 
2)      Tafsir alqur’an dengan as-sunnah
            Rasul saw. Banyak menerangkan sesuatu ungkapan yang ada didalam al-qur’an yang belum diketahui shahabatnya apa yang dimaksud dengan ungkapan itu sendiri.
3)      Tafsir alqur’an dengan tafsian shahabat rasul saw
            Penafsiran seperti ini terjadi setelah rasul saw wafat. Ada tabi’in bertanya kepada shahabat Rasul saw tentang maksud suatu ayat, atau yang bertanya itu shahabat kapada shahabat yang lain, maka bila tidak ada tafsir yang pernah disampaian easul saw, tentang ayat itu maka shahabat mengemukakan pedapatnya.
b.      Tafsir Bi Ad-Dirawayah/ Tafsir Bi Al-ra’yi
            Menurut etimologi etimologi tafsir bi-alra’yi addalah tafsir yang ditetapkan dengan ijtihad. Memperhatikan fakta pada perkembangan tafsir bi-alra’yi, ‘abdul ‘azhim  az-zarqani memeebagi tafsir bi al-ra’yi kepada tafsir al-mahmud dan rafsir al-muzdmum. Tafsir al-mahmud adalah tafsir shahabat, tabi’in tafsir yang dikemukakan orang yang menafsirkan alqur’an yang berpegang kepada tafsir alqur’an dengan alqur’an, tafsir alqur’qan yang disampaikan rasul saw.
Tafsir sahabat dan tabi’in dengan sanad yang shahih dan tafsirna ahlu al-ra’yi yang dijastipikasi orang-orang yang menkompromikan  diantara riwayat-riwayat shahih yang dibuang sanadnya dan pendapa-pendapat mereka yang bersifat ilmiah yang kafabel.
c.       Tafsir Bi Al- Isyari
            Tafsir bi al-isyari adalah yaitu takwil alqur’an tanpa dzohirnya untuk mendapatkan isyarat yang tersembunyi yang dapat diketahui orang yang ahli suluk dan tashuf dan dimungkinkan dikompromikan antaranya dengan makna zhahir yang dimaksud..Zhahir alqur’an  adalah yang diturunkan dengan bahasa ‘arab, yaitu pemahaman yang bersifat bahasa arab semata. Sedangkan bathinya adalah kehendak allah ta’ala dan tujuan nya yang dimaksudkan dibalik lafal dan susunannya. Makna bathin  tidak diperoleh semata-mata berpegang kepada kaidah-kaidah bahasa ‘arab., tetapi tidak dapat tidak memerlukan adanya  nur yang dimasukkan allah kedalam hati manusia yang dengan nur itu nnafizhu al-bashirah ( wawsan yang cemerlang dan berpikiran yang selamat dari kesesatan). Ini artinya bahwa tafsiran yang bersifat bathin tidak keluar dari kehendak lafadz qur’ani.




D.    BEBERAPA MUFASIR DAN KARYANYA[14]
1.      Abu Ja'far   Muhammad bin Jarir at-Tabari  dengan karyanya Jami' al-Bayan fi Tafsir Alquran .Kitab beliau terdiri atas 30 jilid. Tafsir at-Tabari sangat terkenal di kalangan mufasir yang datang sesudahnya karena kitab tersebut menjadi rujukan pertama, terutama dengan adanya penafsiran naqli (berdasarkan Alquran dan hadis Rasulullah SAW). Nama lengkapnya adalah Abu Ja'far Muhammad bin Jari At-Tabari, beliau lebih dikenal dengan nama at-Tabari atau Ibnu Jarir at-Tabari, beliau seorang sejarahwan dan ahli tafsir terkemuka kelahiran kota Amul, Tabaristan (di Iran) pada tahun 225 Hijriyah atau 839 sesudah Masehi. Kota Amul tersebut merupakan tempat berkembangnya kebudayaan Islam, namun ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kota Baghdad.
2.      Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim as-Samarqandi dengan karyanya Kitab tafsir Bahr al-Ulum. Ahli fikih Mazhab Hanafi yang terkenal dengan panggilan Imam al-Huda. Ada tiga naskah Bahr al-Ulum. Satu naskah terdiri atas tiga jilid dan terdapat di Dar al-Kutub al-Misriyyah (Mesir). Dua naskah lainnya masing-masing terdiri atas dua dan tiga jilid serta terdapat di perpustakaan Universitas Al-Azhar.
3.      As-Suyuti dengan karyanya ad-Durr al-Mansur fi at-Tafsir al-Ma'tsur yang terdiri atas enam jilid. Ia menyebutkan, kitab tafsir ini berisi penafsiran Rasulullah SAW. Di dalamnya, terdapat sepuluh ribu hadis, baik yang marfu' maupun yang mauquf (yang disandarkan kepada sahabat). Uraian dalam tafsir dikaitkannya pula dengan masalah kebahasaan, seperti i'rab, balagah, dan badi' (keindahan susunan kata Alquran).
4.      Fakhruddin ar-Razi dengan karyanya Mafatih al-Gaib. Kitab ini terdiri atas delapan jilid. Kedelapan jilid tersebut pada hakikatnya tidak disusun seluruhnya oleh ar-Razi. Menurut Ibnu Qadi (ahli tafsir), ar-Razi tidak pernah menyusun tafsirnya itu secara lengkap dari awal hingga akhir, melainkan dilakukan oleh beberapa mufasir lain.
5.      Ibnu Kasir dengan karyanya Tafsir Alquran al-Azim. Kitab ini merupakan kitab tafsir riwayat yang sangat populer dan dipandang sebagai kitab tafsir terbaik kedua setelah kitab tafsir at-Tabari. Ibnu Kasir menafsirkan ayat Alquran berdasarkan hadis Nabi SAW yang dilengkapi dengan sanad dan sedikit penilaian terhadap rangkaian sanad hadis.


E.     PERKEMBANGAN STUDI AL QUR’AN
1.      PERKEMBANGAN STUDI ALQURAN DI KALANGAN UMAT ISLAM
a.      Fase Sebelum Kodifikasi
Pada fase sebelum kodifikasi, ulumul qur’an telah dianggap sebagai benih yang kemunculannya sangat dirasakan sejak masa Nabi. Hal itu ditandai dengan kegairahan para sahabat untuk mempelajari al-qur’an dengan sungguh-sungguh terlebih lagi diantara mereka sebagaimana diceritakan oleh Abu Abdurrahman As-Sulami, memiliki kebiasaan untuk tidak berpindah kepad ayat lain, sebelum memahami dan mengamalkan ayat yang sedang dipelajarinya.
b.      Fase Kodifikasi
Sebagaimana diketahui pada fase sebelum kodifikasi, ulumul qur’an dan ilmu-ilmu lainnya sebelum dikodifikasikan dalam bentuk kitab atau mushaf, satu-satunya yang sudah dikodofikasikan pada saat itu hanyalah Al-Qur’an. Hal it uterus berlangsung sampai ketika Ali Bin Abi Thalib memerintahkan Abu Al-Aswad untuk menulis nahwu[15]. Perintah Ali inilah yang membuka gerbang pengodifikasian ilmu-ilmu agama dan bahasa arab, pengodifikasisan itu semakin marak dan meluas ketika Islam berada di bawah pemerintahan Bani Umayyah dan Abbasyah pada periode-periode awal pemerintahannya.
1)      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad II H.
Pada masa penyusunan ilmu-ilmu agama yang dimulai sejak permulaan abad II H. pada ulama memberikan prioritas atas penyusunan tafsir sebab sebab tafsir merupakan induk ulumul qur’an. Diantara ulama abad II. Adalah : Syu’bah Bin Hijjaj, Sufyan Bin Umayah, Sufyan Ats-Tsauri, Waqi’ Bin Al-Jarrh, Muqotil Bin Sulaiman,  Ibn Jarir Ath-Thobari
2)      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad III H.
Pada abad III selain tafsir dan ilmu tafsir para ulama mulai menyusun beberapa ilmu Al-Qur’an (ulumul qur’an), diantaranya :
a.       Ali Bin Al-Madani  karyanya  Ilmu Asbab An-Nuzul
b.      Abu Ubaid Al-Qosimi Bin Salam karyanya Ilmu Nasikh Wa Al-Mansukh, Ilmu Qiraat, Dan Fadha’il Al-Qur’an
c.       Muhammad Bin Khalaf Al-Marzuban karyanya Kitab Al-Hawei Fi Ulum Al-Qur’an
3)      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad IV H.
Pada abad IV H. Mulai disusun ilmu gharib al-qur’an dan beberapa diantaranya memakai istilah ulumul qur’an, diantara kitabnya adalah ;
a.       Gharib Al-Qur’an
b.      Aja’ib Ulum Al-Qur’an
a.       Al-Mukhtazan Fi Ulum Al-Qur’an
b.      Al-Astigna’ Fi Ulum Al-Qur’an [16]
4)      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad V H.
Pada abad ini mulai disusun ilmu-ilmu I’rab al-qur’an dalam satu kitab. Namun demikian penulisan kitab-kitab ulumul qur’an masih terus dilakukan . ulama masa ini diantaranya :
1)      Ali Bin Ibrahim Bin Sa’id Al-Hufi
2)      Abu Amr-Dani
5)      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad VI H.
Pada abad ini disamping ada ulama yang meneruskan pengembangan ulumul qur’an, juga terdapat ulama yang mulai menyusun ilmu mubhamat al-qu’an diantaranya :
a.       Abu Al-Qosim Bin Abdurrahamn As-Suhali karyanya Kitab Mubhamat Al-Qur’an
b.      Ibn Al-Jauzi karyanya Funun Al-Afnan Fi Aja’ib Al-Qur’an Dan Kitab Al-Mujtab Fi Ulum Tata’allaq Bi Al-Qur’an[17]

6)      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad VII H.
Pada abad VII H ilmu-ilmu Al-qur’an terus berkembang dengan mulai tersusunnya ilmu majaz al-qur’an dan ilmu qira’at. Diantara ulamanya :
a.       Alamuddin As-Sakhawi  karyanya Hidayat Al-Murtab Fi Mutasyabih
b.      Ibn ‘Abd As-Salam / Al Izz karyanya Ilmu Majaz Al-Qur’an
c.       Abu Syamah karyanya Al-Mursyid Al-Wajiz Fi Ulum Al-Qur’an Tata’allaq Bi Al-Qur’an Al-Aziz
7)      Perkembangan Ulumul Qur’an Abad VIII H.
Pada abad ini muncullah ulama yang menyusun ilmu-ilmu baru tentang al-qur’an, namun demikian penulisan kitab-kitab tentang ulumul qur’an tetapo berjalan, diantaranya :
a.       Ibn Abi Al-Isba’ karyanya Ilmu Badu’i Al-Qur’a
b.      Najmuddin Ath-thufi karyanya Ilmu Hujjaj Al-Qur’an
c.       Perkembangan Ulumul Qur’an Abad IX dan X H.

8)      Pada abad IX dan permulaan abad X.
Makin banyak karya para ulama tentang ulumul qur’an pada masa ini ulumul qur’an mencapai kesempurnaan. Diantara ulamanya antara lain :
a.       Jalaludin Al-Bulqini karyanya Mawaqi’ An-Nujum
b.      Muhammad Bin Sulaiman Al-Kafiyaji  karyanya At-Tafsir Fi Qowa’id At-Tafsir
c.       Jalaludin Abdurrahman Bin Kamaluddin As-Suyuti karyanya At-Tahbir Fi Ulum At-Tafsir
Setelah as-suyuti wafat pada tahun 911 H. perkembangan ilmu al-qur’an seolah-olah telah mencapai puncaknya dan berhenti dengan berhentinya para ulama’dalam pengembangan ilmu-ilmu al-qur’an keadaan ini berlanjut sampai abad XIII H.
9)      Pengembangan Ulumul Qur’an Abad Abad Modern.
Sebagaimana penjelasan diatas, bahwa setelah wafatnya imam as-suyuti tahun 911 H, maka terhentilah gerakan penulisan al-qur’an dan pertumbuhannya sampai abad ke-XIV H. sebab pada abad ke-XIV H atau pada abad modern ini bangkit kembali kegiatan penulisan ulumul qur’an dan perkembangan kitab-kitabnya. Hal itu ditengarai dengan banyaknya ulama’ yang mengarang ulumul qur’an dan menuls kitab-kitabnya, baik tafsir maupun macam-macamnya kitab ulumul qur’an.
Diantara para ulama’ yang menulis tafsir/ ulumul qur’an pada abad modern ini adalah sebagai berikut.
a.       Ad-Dahlawi karyanya Al-Fauzul Kabir Fi Ushulil Tafsir
b.      Thahir Al-Jaziri karyanya At-Tibyan Fi ‘Ulumil Qur’an.
c.       Abu Daqiqah karyanya ‘Ulumul Qur’an
d.      M. Ali Salamah karyanya Minhajul Furqon Fi ‘Ulumil Qur’an

2.      ALQURAN DAN KESARJANAAN BARAT ( ORIENTALIS )
Orientalis berasal dari kata “Orient” yang mengandung pengertian“timur”, kata-kata tersebut berarti ilmu-ilmu yang berhubungan dengan dunia timur.[18] Orang-orang yang mempelajari budaya timur dari segala aspeknya disebut orientalis atau ahli ketimuran. Orientalis adalah suatu gaya berfikir yang berdasarkan pada perbedaan ontologis dan epistimologis yang dibuat antara timur dan barat.[19] Secara defenisitif orientalis ialah segolongan sarjana barat yang mendalami bahasa-bahasa, budaya, politik, etnis dunia timur, sejarah, adat istiadat dan ilmu-ilmunya.[20]
Perhatian ilmiah orang orang Barat terhadap Alquran dapat dikatakan bermula dengan berkunjungnya Peter yang Agung ( Veter the venerable ) --kepala Biara Cluny—ke Toledo pada perempatan kedua abad ke XII .Ia mulai memperhatikan seluruh masalah Islam, membentuk suatu tim dan menugaskan membuat serangkaian karya yang secara keseluruhan akan merupakan basis ilmiah bagi para intektual yang akan berurusan dengan Islam. Sebagian rangkaian dari karya ini adalah penerjemahan alquran ke dalam Bahasa Latin yang digarap oleh seorang Inggris , Robert of Ketton . Sayangnya terjemahan ini dan karya karya lainnya yang digarap tim tidak membuahkan perkembangan penting apapun terhadap kajian kajian Islam. Sejumlah besar buku di tulis dalam dua atau tiga abad berikutnya, Tetapi Islam tetap merupakan musuh bebuyutan yang ditakuti dan terkadang dikagumi., serta hal hal yang dituliskan itu hampir semuanya bersifat apologetik dan polemik, terkadang bahkan hampir hal hal yang tidak senonoh atau cabul[21].
Meningkatnya energi pada masa Renaisans , penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg ( Jerman 1396-1468 ) dan masuknya turki Ustmani ke Eropa , kesemuanya telah mendorong munculnya sejumlah karya tentang Islam pada paruh pertama abad ke XVI. Berikut ini akan coba di jelaskan sistematika dalam perkembangan alquran.[22]

Tabel 1
Perkembangan alquran [23]
Tahun
peristiwa
1143
Alquran berbahasa latin , Liber legis Saracenorum quem alcoran vocant oleh Robert of Ketton
1530
Alquran pertama kali di cetak di kota Bunduqiyah ( Venisia ) Italia yang kemudian gereja mengeluarkan perintah untuk membasminya
1547
Alquran diterjemahkan kedalam Bahasa Italia oleh Andrea Arrivabene dengan nama Alcorano di Macometto
1616
Alquran di terjemahkan dalam Bahasa Jerman , De Arabische Alqoran oleh Solomon Schieger ( Seorang Pendeta )
1647
Alquran berbahasa Prancis , L ‘Alqoran de Mahomet translate d’arabe en Francois oleh Andrew Du Ryer
1649
Alquran berbahas Inggris oleh Alexander Ross
1694
Hinkelman mencetak Al quran di Hamburg , Jerman
1698
Alquran dengan terjemahan bahasa latin , Alcorani textus Universus oleh Ludovico Marraci
1772
Alquran berbahasa Jerman , Die turkische Bibel oleh DF Mergellin
1787
Percetakan umat Islam yang pertama didirikan oleh Malay Usman ( Sultan Ottoman Turki ) di St. Petersburgh  , Rusia
1828
Percetakan Alquran muncul di Qazan, Rusia
1834
Alquran berbehasa Jerman oleh Gustav Leberecht fluguel, Coranio textus Arabicus
1838
Alquran dicetak di Persia ( Iran )
1842
Alquran dan terjemahan berbahasa Jerman oleh Gustav Lebercht Fluguel , Concordinate coranie Arabic
1877
Alquaran di cetak di Istanbul Turki
1923
Alquran edisi mungil muncul di Kairo di bawah pengawasan Syaikhul Azhar, ( Rektor Al Azhar ) yang di sahkan oleh Raja Fuad
1953
Alquran berbahasa Inggris oleh Arthur J. Arrebery the Holy Quran
1955
Alquran berbahasa Inggris Oleh Arthur . J Arrebery The Holly Qoran Interperted
1966
Jerman der Qoran oleh Rudi Paret
1967
Terjemahan Al quran berbahasa Indonesia  “ Alquran dan terjemahnya “ yang disusun oleh pemerintah Indonesia dengan anggotanya Hasbie Assidiqie , Bustami, A.Gani. Muchtar Yahya, Mukti Ali, dan yang lainnya yang bekerja selama 8 tahun

Boleh jadi motivasi awal orang – orang barat mempelajari Islam, tidaklah untuk menyerang Islam. Mungkin saja pada awalnya mereka benar-benar mempelajri Islam sebagai suatu ilmu. Namun akhirnya orientalis tetap saja membawa bau sentiment barat (baca: Kristen) terhadap Islam. Sehingga jadilah kajian-kajian orientalis merupakan syubhat-syubhat yang menimbulkan keragu-raguan dikalangan muslimin terhadap ajaran Islam, sebagai contoh serangan mereka terhadap Islam yakni  Alquran terjemahan karya George Sale yang disebarluaskan sejak abad XVIII ( 1734 M ) dengan nama The quran of Muhammad. Dalam Mukaddimahnya banyak sekali menyebutkan dakwaan dan tuduhan . Pengantar tersebut diberinya judul preliminary discourse disebutkan : Alquran bukan wahyu dan bukan mukjizat . Di dalam Alquran banyak sekali kekeliruan dan satu sama lain saling kontradiksi. Kebanyakan isinya di cukil dari Yahudi dan Nasrani. Tidak hanya dalam pokok pokok masalah nya saja, tetapi dalam pembagian dan pengaturan serta susunan dan ayat ayatnya. Lebih dari itu ia mengatakan bahwa Alquran adalah dongeng kuno. Kemudian ia juga menjelaskan bahwa Muhammad itu tidak lain adalah pengarang Alquran itu sendiri , rancangannya di bantu orang lain . Ini adalah masalah yang tidak diragukan lagi dan telah disepakati oleh semua orang , karena tidak adanya usulan atau protes dari para sahabatnya.[24] 





3.       KRITIK ANALISIS TERHADAP KAJIAN ORIENTALIS
 Ternyata tidak semua orientalis, mempunyai pemikiran sama, dimana mereka mempelajari Islam untuk menyerang Islam itu, tetapi justru banyak diantara mereka juga yang membela Islam, seperti William Montogomery Watt, yang diklaim sebagai orientalis objektif dan paling simpatik terhadap Islam, berpendapat bahwa kebenaran kenabian Muhammad didasarkan  pada fakta sejarah umat Islam sendiri. Bagi Watt, pesan-pesan (massage) wahyu Nabi Muhammad telah mengantarkan komunitas umat Islam berkembang sejak masa kerasulan Muhammad hingga sekarang, umat Islam menaati ajaran, merasakan kepuasan dan kebahagiaan, serta menjadi saleh dan taat dalam keislamannya, meskipun hidup dalam lingkungan yang sulit. Ia menyatakan, “Hal-hal tersebut menghasilkan konklusi bahwa pandangan tentang realitas yang terkandung dalan Alquran adalah benar dan bersumber dari Tuhan. Dengan demikian, Muhammad adalah nabi yang sesungguhnya”.[25]
Hal serupa juga diungkapkan E Renan Setelah melakukan pengkajian tentang Al masih as. Dia menetapkan bahwa al Masih bukanlah tuhan dan bukan pula anak tuhan . Beliau hanya seorang manusia biasa yang mempunyai keistimewaan dibanding dengan manusia lain serta memilki jiwa ( ruh ) yang mulia. Ia juga menjelaskan bahwabuku berbahasa Arab yang membahas sejarah nabi Muhammad seperti Sirah Ibnu Hisyam adalah tarikh yang sangat bagus  yang melebihi Injil yang beredar dikalangan umat Kristen sekarang.[26]
Kejujuran para orientalis dalam mengkaji Islam ternyata membawa dampak yang baik , Tidak sedikit dari mereka yang masuk Islam seperti  Lord Hedley, Aten kaeeeDinech, penyair Jerman gothe, dan Dr. Gerinech sebagai seoarang anggota parlemen Prancis.Ketika ditanya mengapa dia masuk Islam , ia menjelaskan : “ Saya telah melakukan studi terhadap semua ayat Alquran yang berhubungan dengnan ilmu kedokteran , kesehatan, ilmu alam, dan yang berhungungan dengan pelajaran saya waktu kecil serta pengetahuan baru yang saya peroleh. Oleh karena itu saya masuk Islam dan saya yakin bahwa Nabi Muhammad Saw. Telah membawa kebenaran sejak beribu tahun yang lalu. Seandainya seluruh pakar ilmu pengetahuan mau membandingkan ayat ayat Alquran dengan Ilmu pengetahuan sekarang sebagaimana yang saya lakukan , niscaya ia akan masuk Islam jika mereka berfikir objektif tentunya.[27]
BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      al-Qur’an adalah:
2.      كلام الله المترل على النيى صلى الله عليه وسلم المكتوب فى المصاحف المنقول با التواتر المتعبد بتلاوته
3.      Kalam yang bersifat mu’jizat, yang diturunkan atas Rasul saw., ditulis pada beberapa mushaf,diriwayatkan secara nutawatir, dan menjadi ibadah membacanya.
4.      Dari sudut isi atau substansinya, fungsi Al-Qur’an sebagai tersurat dalam nama-namanya adalah sebagai Al-Huda (petunjuk), Al-Furqon (pemisah), As-Syifa (Obat), Al Mau’idzoh (nasehat)
5.      Ulama membagi tafsir alqur’an berdasarkan metode penafsiran  menjadi tiga macam, yaitu: Tafsir Al-riwayah/ Tafsir Bi Al-ma’tsur, Tafsir Bi Ad-Dirawayah/ Tafsir Bi Al-ra’yi, Tafsir Bi Al- Isyari,
6.      Perkembangan studi Alquran dikalngan umat Islam terdiri dari beberapa fase, mulai dari fase sebelum kodifikasi  hingga ke fase modern . Perkembangan Studi Alquran juga dilakukan oleh kesarjanaan Barat ( Orientalis ), yang Boleh jadi motivasi awal orang – orang barat mempelajari Islam, tidaklah untuk menyerang Islam. Mungkin saja pada awalnya mereka benar-benar mempelajri Islam sebagai suatu ilmu. Namun akhirnya orientalis tetap saja membawa bau sentiment barat (baca: Kristen) terhadap Islam.
7.      Tidak semua orientalis, mempunyai pemikiran sama, dimana mereka mempelajari Islam untuk menyerang Islam itu, tetapi justru banyak diantara mereka juga yang membela Islam, seperti William Montogomery Watt, E Renan,dan lain sebagainya. Bahkan Kejujuran para orientalis dalam mengkaji Islam ternyata membawa dampak yang baik , Tidak sedikit dari mereka yang masuk Islam seperti  Lord Hedley, Aten kaeeeDinech, penyair Jerman gothe, dan Dr. Gerinech sebagai seoarang anggota parlemen Prancis.




DAFTAR PUSTAKA

Ali Ash-Shaabuniy , Muhammad, Studi Ilmu Alqur’an. Bandung : Cv Pustaka Setia :1999
Asmuni, M. Yusran. Dirasah Islamiyah I Pengantar Studi Alquran Hadits Fiqh dan Pranata Sosial.  Jakarta : PT. Raja Grafindo. 1997
Alif Sampayya , Abah Salma, Keseimbangan Matematika dalam Alquran . Jakarta : Republika , 2007.
Buchari , H. A. Mannan, Menyingkap Tabir Orientalisme. Jakarta : Amzah , 2002 .
Baidan , Nashruddin, Metode Penafsiran Alqur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002
Chalil ,H. Munawar. Alquran dari Masa ke Masa. Semarang : CV. Ramadhani : 1952
Haque , Ziaul. Wahyu dan Revolusi,LKiS Yogyakarta, 2000
Hasbi Ash Shiddieqy , Teungku Muhamad. Ilmu Alqur’an dan Tafsir. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 1997.
Hanafi A., Orientalisme ditinjau dari kacamata Agama, (Alquran dan Hadits), Pustaka Al-Husna,2004.
Jami’,Nasrun  Daulay, Ulum Al-Qur’an . Bandung : CitaPustaka. 2010 .
Khalil , Manna’ al-Qattan, Mabahits Fi Ulumil Quran terj. Mudzakir AS.  Jakarta.
Montgomery W. Watt , pengantar Studi Alquran.  Jakarta : Rajawali pers ,1991 .
Montogomery,  W. Watt, Islam and Cristianity Today: A Contribution to Dialogue London, Boston : Routledge & Kegan Paul, 1983.
Rahman Zulfran, Kajian Sunnah nabi SAW Sebagai Sumber Hukum Islam. Kerinci,
Sirojuddin Iqbal , Mashuri dan  A. pudlali. Pengantar Ilmu Tafsir. Bandung: Angkasa Bandung. 1989.
PT. Litera Antar Nusa : 2009 .
Shihab , Qurais dkk,  Sejarah dan Ulumul Quran .Jakarta, Pustaka Firdaus : 1994
CV Pedoman Ilmu Jaya: 2004 .
Zuhri, Ahmad . Studi AlQur’an dan tafsir. Jakarta Selatan : Hijri Pustaka Utama, , 200
http://annas-ribab.blogspot.com/2009/11/al-quran-wahyu-ilham.html, diakses hari Rabu, 10 Oktober 2012 pukul 17.00



[1] H. Munawar Chalil, Alquran dari Masa ke Masa ( Semarang : CV. Ramadhani : 1952 ) hlm.31
[2] M. Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah I Pengantar Studi Alquran Hadits Fiqh dan Pranata Sosial ( Jakarta : PT. Raja Grafindo. 1997 ) , hlm.43

[3] Nasrun Jami’ Daulay, Ulum Al-Qur’an (Bandung :CitaPustaka, 2010 )
[4] Prof. Dr. Muhammad Ali Ash-Shaabuniy, Studi Ilmu Alqur’an, (Bandung : Cv Pustaka Setia : 1999), hlm. 14-25
[5] Dr. H. Ahmad Zuhri, Lc, MA, Studi AlQur’an dan tafsir, Jakarta Selatan :Hijri Pustaka Utama, , 2006
[6] Ziaul Haque, Wahyu dan Revolusi,LKiS Yogyakarta, 2000
[7] Annas ribab, AlQur’an, Wahyu dan Ilham, http://annas-ribab.blogspot.com/2009/11/al-quran-wahyu-ilham.html, diakses hari Rabu, 10 Oktober 2012
[9] Teungku Muhamad Hasbi Ash Shiddieqy. Ilmu Alqur’an dan Tafsir. (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra,1997), h. 171-174

[10]  Mashuri sirojuddin Iqbal dan  A. pudlali. Pengantar Ilmu Tafsi (Bandung: Angkasa Bandung. 1989), hlm.100.

[11]  Mashuri sirojuddin Iqbal dan  A. pudlali. Pengantar Ilmu Tafsi (Bandung: Angkasa Bandung. 1989), hlm.102-103  
[12] Nashruddin Baidan, Metode Penafsiran Alqur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 55-56

[13] Nasrun Jami’ Daulay, Ulum  Al-qur’an, (Bandung: Citapustaka Media Perintis,2010), h. 97-98
[15] Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahits Fi Ulumil Quran terj. Mudzakir AS, ( Jakarta , PT. Litera Antar Nusa : 2009 ) hlm.7

[16] Qurais Shihab dkk,  Sejarah dan Ulumul Quran ( Jakarta, Pustaka Firdaus : 1994 ) hlm. 4
[17]  Subhi As-Shalih, 1985, Mabahits Fi Ulumul Quran, hlm. 144.
                
[18] A. Hanafi, Orientalisme ditinjau dari kacamata Agama, (Alquran dan Hadits), Pustaka Al-Husna, hlm. 9.
[19] Zulfran Rahman, Kajian nSunnah nabi SAW Sebagai Sumber Hukum Islam,( Kerinci, CV Pedoman Ilmu Jaya: 2004 ) hlm. 135.
[20] Ibid, hlm. 135 
[21]  W. Montgomery Watt , pengantar Studi Alquran ( Jakarta : Rajawali pers :1991  ) hlm. 273

[23] Abah Salma Alif Sampayya , Keseimbangan Matematika dalam Alquran , ( Jakarta : Republika , 2007 ) hlm. 11
[24] H. A. Mannan Buchari, Menyingkap Tabir Orientalisme ( Jakarta : Amzah , 2002 ) hlm. 56
[25] W. Montogomery Watt, Islam and Cristianity Today: A Contribution to Dialogue (London, Boston : Routledge & Kegan Paul, 1983), hlm. 61.
[26] H. A. Mannan Buchari,.op.cit .hlm .28
[27]  H. A. Mannan Buchari,.op.cit .hlm .29