Tuesday, 15 May 2012

Sejarah Peradaban Islam di Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha seperti yang pernah kita pelajari pada materi sebelumnya. Dengan masuknya Islam,
Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1.      Apa saja seni budaya Islam di Indonesia?
2.      Bagaimana perkembangan seni budaya Islam di Indonesia?
C. Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa saja seni budaya Islam di Indonesia
2.      Untuk mengetahui bagaimana perkembangan seni budaya Islam di Indonesia



BAB II
PEMBAHASAN

A. Peradaban Seni Budaya Islam di Indonesia
Seni adalah sesuatu hasil karya manusia yang indah, baik dalam bentuk materiil, maupun nonmateriil,sedangkan budaya adalah salah satu hasil peradaban seni. Islam pun mengenal yang namanya seni,yang pada hakikatnya merujuk pada sesuatu yang bagus dan indah. Pada Q.S. As-Sajdah [32] : 7 disebutkan,
7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

Budaya Islam Indonesia tidak sehebat seperti Kerajaan Mughal di India dengan Taj Mahal-nya. Hal inidisebabkan Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai sehingga seni Islam harus menyesuaikan diri dengan kebudayaan lama, dan Nusantara adalah negeri yang merupakan jalur perdagangan internasional, sehingga penduduknya lebih mementingkan masalah perdagangan daripada kesenian.[1] Keseniannya sangat sederhana dan miskin. kekuatan himmah seperti mendorong Muslim di negara lain untuk menciptakan pekerjaan besar, tidak muncul di Indonesia. Kalau pun muncul, biasanya berasal dari negara luar atau peniruan yang tidak lengkap. Walaupun demikian, masuknya Islam ke Indonesia membawa tamaddun (kemajuan) dan kecerdasan bagi bangsa Indonesia.[2] . Islam datang ke Indonesia memberikan perubahan dalam bidang seni, misalnya, penggunaan batu nisan, seni bangunan,seni sastra, dan seni ukir.


            Ada beberapa faktor sebab mengapa hal tersebut bisa terjadi:
1.      Islam yang datang ke Indonesia secara besar-besaran kira-kira abad ke-13 menurut sejarah, adalah akibat arus balik dampak kehancuran Baghdad. Dengan demikian umat Islam yang datang pada hakikatnya adalah pedagang atau elit bangsawan atau ulama-ulama penyebar agama Islam yang ingin mencari keselamatan dari kehancuran wilayah Timur Tengah karena adanya perang Mongol pimpinan Hulagu.
2.      Di Indonesia, terutama Jawa, ketika Islam datang sudah memiliki peradaban asli yang dipengaruhi Hindu-Budha yang sudah mengakar kuat terutama di pusat- pusat pemerintahan, maka seni  Islam harus menyesuaikan diri.
3.      Umat Islam yang datang ke Indonesia mayoritas adalah pedagang yang tentu orientasinya adalah datang untuk sementara dan untuk mencari keuntungan untuk dibawa pulang ke negrinya. datang untuk sementara inilah yang membuat mereka mencari hal-hal yang praktis. Kalaupun ada ulama atau yang datan untuk berdakwah,  mereka juga ulama atau sufi pengembara yang selalu berdakwah dari satu tempat ke tempat yang lain, sehingga tidak terpikir untuk membuat sesuatu yang baru.
4.      Ketika sudah ada umat Muslim di Indonesia, kebanyakan keturunan pedagang atau sufi pengembara yang kemudian menjadi raja Islam di Nusantara dan mulai membangun kebudayaan Islam, kemudian datang bangsa Barat yang sejak awal kedatangannya sudah bersikap memusuhi umat Islam (sisa-sisa dendam perang salib), sehingga raja-raja Islam belum sempat membangunnya..
5.      Islam yang datang ke Indonesia adalah Islam tasawuf yang lebih mementingkan olah rohani dari pada masalah duniawi
6.      Indonesia adalah negeri yang merupakan jalur perdagangan Internasional, sehingga penduduknya lebih mementingkan perdagangan ketimbang kesenian.
7.      Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai, sehingga terjadilah asimilasi, yaitu kesepakatan untuk tidak melanggar aturan-aturan agama lain. Oleh sebab itu tidak heran jika budaya Islam di Indonesia tidak sehebat budaya Islam di negara Islam yang lain.[3]

B. Macam-Macam Seni Budaya Islam di Indonesia
1.      Batu Nisan
Kebudayaan Islam di Indonesia mula-mula masuk ke Indonesia dalam bentuk batu nisan. Di Pasai masih dijumpai batu nisan makan Sultan Malik al-Saleh yang wafat pada tahun 1292. Batunya terdiri dari pualam putih diukir dengan tulisan arab yang sangat indah berisikan ayat al-qur’an dan keterangan tentang orang yang dimakamkan serta hari dan tahun wafatnya. Makam-makam yang serupa dijumpai juga di Jawa, seperti makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik.
Bentuk makam dari abad permulaan masuknya Islam menjadi contoh model bagi makam Islam kemudian.  Hal ini disebabkan sebelum Islam tidak ada makam. Orang Hindu dan Budha jenazahnya dibakar dan abunya dibuang ke laut, jika dia seorang kaya maka abunya disimpan di guci, dan jika dia seorang raja disimpan didalam candi.
Nisan itu umumnya didatangkan dari Gujarat sebagai barang pesanan. Bentuknya lunas (bentuk kapal terbalik) yang mengesankan pengaruh Persia. Bentuk-bentuk nisan kemudian hari tidak selalu sama. Pengaruh kebudayaan setempat sering mempengaruhi, sehingga ada bentuk teratai, keris, atau bentuk gunungan seperti gunungan pewayangan. Namun kebudayaan nisan ini tidak berkembang lebih lanjut, yang termashur adalah makam Malik al-Saleh di Perlak dan makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik.


2.      Arsitektur (Seni Bangunan)
Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam, istana. Wujud akulturasi dari masjid kuno memiliki ciri sebagai berikut:
a.      Atapnya berbentuk tumpang yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin kecil dari tingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau 5. Dan biasanya ditambah dengan kemuncak untuk memberi tekanan akan keruncingannya yang disebut dengan Mustaka.
b.      Tidak dilengkapi dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjid yang ada di luar Indonesia atau yang ada sekarang, tetapi dilengkapi dengan kentongan atau bedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat. Bedug dan kentongan merupakan budaya asli Indonesia.
c.       Letak masjid biasanya dekat dengan istana yaitu sebelah barat alun-alun atau bahkan didirikan di tempat-tempat keramat yaitu di atas bukit atau dekat dengan makam.[4]
Mengenai contoh masjid kuno dapat memperhatikan Masjid Agung Demak, Masjid Gunung Jati (Cirebon), Masjid Kudus dan sebagainya. Di masjid-masjid itulah menurut sejarah, para wali mengajarkan agama Islam.  Selain bangunan masjid sebagai wujud akulturasi kebudyaan Islam, juga terlihat pada bangunan makam. Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:
a.       Makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang keramat.
b.      Makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing,nisannya juga terbuat dari batu.
c.       Di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup atau kubba.
d.      Dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam atau kelompok-kelompok makam. Bentuk gapura tersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).
e.       Di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja. Contohnya masjid makam Sendang Duwur di Tuban.

Bangunan istana arsitektur yang dibangun pada awal perkembangan Islam, juga memperlihatkan adanya unsur akulturasi dari segi arsitektur ataupun ragam hias, maupun dari seni patungnya contohnya istana Kasultanan Yogyakarta dilengkapi dengan patung penjaga Dwarapala (Hindu).
3.      Seni Rupa
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yang menghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula Sinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar didapat keserasian, ditengah ragam hias suluran terdapat bentuk kera yang distilir.
Ukiran ataupun hiasan, selain ditemukan di masjid juga ditemukan pada gapura-gapura atau pada pintu dan tiang. Untuk hiasan pada gapura.
Ketika Islam baru datang ke Indonesia, terutama ke Jawa, ada kehati-hatian para penyiar agama. Banyak candi-candi besar, termasuk candi Borobudur, yang semula ditimbun tanah pada masa penjajahan Belanda dan kemudian digali kembali, supaya tidak mengganggu para mualaf. Mempuat patung dari seni ukir pun dilarang, kalaupun timbul kembali, kesenian itu harus disamarkan, sehingga seni ukir dan seni patung menjadi terbatas kepada seni ukir saja.[5]
4.      Aksara dan Seni Sastra
Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tandatanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.[6]
Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu – Budha dan sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/ aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.
Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:
a.       Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).
b.      Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
c.       Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
d.      Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.[7]
Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa.

               Jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia, bangsa Indonesia telah memeluk agama hindu dan budha disamping kepercayaan nenek moyang mereka yang menganut animisme dan dinamisme. Setelah Islam masuk ke Indonesia, Islam berpengaruh besar baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi,maupun di bidang kebudayaan yang antara lain seperti di bawah ini:
1.      Pengaruh Bahasa dan Nama
Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sangat banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab. Bahasa Arab sudah banyak menyatu dalam kosa kata bahasa Indonesia, contohnya kata wajib, fardu, lahir, bathin, musyawarah, surat, kabar, koran, jual, kursi dan masker. Dalam hal nama juga banyak dipakai nama-nama yang berciri Islam (Arab) seperti Muhammad, Abdullah, Anwar, Ahmad, Abdul, Muthalib, Muhaimin, Junaidi, Aminah, Khadijah, Maimunah, Rahmillah, Rohani dan Rahma.

2.      Pengaruh Budaya, Adat Istiadat dan Seni
Kebiasaan yang banyak berkembang dari budaya Islam dapat berupa ucapan salam, acara tahlilan, syukuran, yasinan dan lain-lain. Dalam hal kesenian, banyak dijumpai seni musik seperti kasidah, rebana, marawis, barzanji dan shalawat. Kita juga melihat pengaruh di bidang seni arsitektur rumah peribadatan atau masjid di Indonesia yang banayak dipengaruhi oleh arsitektur masjid yang ada di wilayah Timur Tengah.

3.      Pengaruh dalam Bidang Politik
Pengaruh inin dapat dilihat dalam sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia seperti konsep khilafah atau kesultanan yang sering kita jumpai pada kerajaan-kerajaan seperti Aceh, Mataram. Demak, Banten dan Tidore

4.      Pengaruh di bidang ekonomi
Daerah-daerah pesisir sering dikunjungi para pedagang Islam dari Arab, Parsi,dan Gujarat yang menerapkan konsep jual beli secara Islam. Juga adanya kewajiban membayar zakat atau amal jariyah yang lainnya, seperti sedekah, infak, waqaf, menyantuni yatim, piatu, fakir dan miskin. Hal itu membuat perekonomian umat Islam semakin berkembang.[8]




 BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Masuknya Islam ke Indonesia membawa tamaddun (kemajuan) dan kecerdasan bagi bangsa Indonesia. Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia.
            Adapun macam-macam seni budaya Islam di Indonesia yaitu:
1.      Arsitektur (Seni Bangun)
2.      Batu Nisan
3.      Seni Rupa
4.      Aksara dan Seni Sastra
Dan juga Islam membawa pengaruh terhadap beberapa aspek bangsa Indonesia seperti:
1.      Pengaruh budaya, adat istiadat dan seni
2.      Pengaruh dalam bidang politik
3.      Pengaruh di bidang ekonomi
4.      Dan pengaruh bahasa dan nama


[1] http://www.scribd.com/doc/86630485/Islam-Dalam-Seni-Budaya
[2] G. F. P  ijper, Sejarah Islam di Indonesia  1900-1950, Terjemahan. Tudjimah Yessy Augusdin ( Jakarta: UI-Press, 1985) hal. 44
[3] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2012) hal. 92-94
[4] Ibid, hal. 95
[5]Ismail Raji Al Faruqi, Seni Tauqid Ekpresi Estetika Islam, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. 1999) hal. 67
[7] Sidi zalba,. Islam Dan Kesenian. (Jakarta: Pustaka Al Husna, 1998) hal. 32

No comments:

Post a Comment